Tag: fpl

WE ARE IN THE ENDGAME NOW

Saat membaca kalimat di atas, saya bisa membayangkan para pembaca tulisan ini langsung memproduksi visual wajah Benedict Clumberbatch, aktor yang memerankan Dr. Stephen Strange, terdisintegrasi menjadi debu. Nah, khusus untuk para pemain setia FPL, kalimat tersebut bisa diartikan lain, sebagai ‘sprint’ atau lari cepat di akhir musim. Tentu masih menempel di ingatan kita, saat awal sepakbola Liga Inggris bisa kembali bergulir pasca kasus pertama pandemi global, bagaimana aset Manchester United tiba-tiba menjadi idola para manajer FPL aktif. Bruno Fernandes, Anthony Martial, Marcus Rashford, hingga Mason Greenwood (kala itu masih dihargai £4.5M saja di FPL) memiliki effective ownership praktis mendekati 100% setiap pekannya. Anthony Martial dalam 9 pertandingan terakhir bahkan mencetak 6 gol dan 6 assist (termasuk fantasy assist). Hal yang sama terjadi pada Raheem Sterling yang tiba-tiba semakin baik performanya dengan mencetak 9 gol dan 4 (fantasy) assist dalam 9 pekan saja. Nasib terbalik justru terjadi pada Dominic Calvert-Lewin. Sebelum project restart, DCL berhasil mencetak 12 gol dalam 29 pekan, namun tidak mencetak 1 gol pun setelah project restart hingga musim berakhir. Titik balik performa seperti ini, jika dapat diimplementasikan ke dalam tim FPL kita, tentu dapat menjadi lari cepat yang sangat efektif di musim yang terasa sangat panjang ini. Beristirahat sejenak dari isu-isu sepakbola benua Eropa yang begitu dinamis dalam 72 jam terakhir, mari kita sedikit tenang dan berfikir menyusun strategi di akhir musim agar bisa ‘sprint’ dengan baik.

ATTACK/DEFEND CURRENT RANK

Banyak pemain FPL yang berfikir untuk mengubah strategi mereka menuju akhir musim bergantung dengan posisi/ranking mereka saat ini. Pemain yang memiliki ranking kurang baik ingin ‘menyerang’ untuk menaikkan rankingnya, sedangkan yang sudah puas dengan posisinya ingin mempertahankan posisinya dengan bermain FPL lebih ‘bertahan’. Menurut saya, sebelum mengaplikasikan strategi tersebut, kita perlu lebih dahulu memahami apa definisi ‘menyerang’ dan ‘bertahan’ dari sisi FPL. Menyerang bukan berarti menggunakan formasi dengan pemain bertahan lebih sedikit, dan sebaliknya (jelas sekali).

Perlu diingat, bahwa gol akhir FPL adalah memiliki poin (dan ranking) setinggi-tingginya. Yang menang FPL bukanlah pemain/manajer yang memiliki diferensial paling banyak, atau memiliki template rating tertinggi, atau menonton sepakbola paling banyak, atau memahami statistik/taktik sepakbola paling baik, atau menonton konten FPL paling banyak. Pemenang FPL (baik untuk liga global atau liga mini/mini league) adalah manajer dengan poin tertinggi, sehingga aplikasi strategi ‘menyerang’ dan ‘bertahan’ kita sebetulnya tetap memiliki gol yang sama, yaitu meraih poin FPL sebanyak-banyaknya. Konsep ini terdengar sederhana, simpel, tapi ternyata banyak manajer yang merasa paham akan konsep ini, tetapi komposisi timnya tidak menunjukkan hal tersebut. Mari kita ulas lebih jauh lagi!

STRATEGI BERTAHAN

Untuk mempertahankan posisi FPL, kita perlu membuat rencana agar poin tim kita tidak ketinggalan dari poin tim orang lain. Ini mudah jika kita hanya melawan 2-3 orang di liga mini, meskipun mungkin strateginya jadi sangat membosankan. Dengan menggunakan konsep effective ownership (EO), kita memiliki perangkat yang cukup informatif agar tidak tersalip orang yang posisinya di bawah kita.

Bagaimana aplikasinya? Punyailah pemain yang dimiliki lawan. Sebagai contoh, jika lawan memilih kapten Kane dan kita mengkaptenkan Mo Salah, mungkinkah poin kita didekati oleh lawan? Mungkin. Jika terjadi Kane mencetak poin FPL lebih besar dari Salah, posisi kita semakin dekat. Tetapi, sebaliknya, jika Salah mencetak poin lebih besar dari Kane, maka keunggulan kita akan semakin jauh. Nah, kasus ini memiliki pro dan kontra, di mana kita bisa menjauh dari lawan, tetapi juga mungkin didekati oleh lawan. Lain halnya jika kita juga mengkaptenkan Harry Kane. Apapun yang terjadi, poin kita tidak akan didekati karena poin kapten lawan besar (namun bisa didekati dengan total poin 10 pemain lainnya). Jika kapten kita blank, toh kapten lawan juga blank. Jika kapten lawan hattrick, toh kapten kita juga hattrick. Apakah saya menyarankan bermain seperti ini untuk bertahan? Tidak sama sekali. Tapi ini tetap merupakan salah satu cara ‘bertahan’ yang efektif di mini league.

Sayang sekali, cara bertahan tersebut mungkin tidak efektif diterapkan di liga global. Hal ini terjadi karena konsep dasar statistik, di mana ukuran populasi di mini league relatif lebih sedikit, sehingga lebih mudah menavigasi template squad yang ada. Di liga global, sangat sedikit kemungkinan 2 tim memiliki tim yang sama persis. Kita bisa bertahan dari 10 tim di bawah kita, tapi tidak bisa bertahan dari 100 tim di bawah kita, karena ada variasi tim yang lebih besar yang tidak bisa kita tahan. Lantas, bagaimana caranya?

Obervasi EO pemain di sekitar rank kita. Jika saat ini posisi Anda sudah ada di top10K, tidak memiliki Harry Kane sama saja dengan bunuh diri. Mengapa? Dari 10000 manajer yang berposisi di top10K menuju pekan 32, 9922 manajer memiliki striker Spurs ini di timnya. Lebih dari 9500 manajer memilih Harry Kane sebagai kaptennya, dan sekitar 2500 hingga 3000 manager mengaktifkan chip triple captainnya. Setiap poin yang didulang Harry Kane akan memberikan keuntungan bagi 9922 manajer ini terhadap 78 manajer yang memilih untuk tidak memiliki Harry Kane, sehingga jika Anda adalah 1 di antara 78 manajer ini, tentu ini adalah mimpi buruk. Tetapi, bagi sesama pemilik Harry Kane, poin Kane tidak memberikan keuntungan apa pun, karena posisinya tetap sama dengan 9921 manajer lainnya.

Dengan menggunakan konsep di atas, jika kita memiliki pemain yang mayoritas dimiliki juga oleh manajer lainnya, peluang kita disusul semakin kecil. Bayangkan jika tim Anda memiliki Harry Kane (onwership di top 10K 99.22%), Heung Min Son (84.35%), Bruno Fernandes (83.96%), Jesse Lingard (83.22%), dan pemain template lainnya. Apapun yang terjadi pada pemain tersebut, hattrick ataupun kartu merah, Anda akan mendapatkan hasil yang sama dengan mayoritas pesaing Anda, sehingga posisi Anda tidak akan terpengaruh besar dalam 1 pekan. Namun, kembali ke konsep awal, pemenang FPL bukanlah yang timnya paling ‘umum’, tetapi tim yang menghasilkan poin terbesar. Jika pemain kita mayoritas dimiliki banyak manajer, namun poin FPLnya selalu ketinggalan dengan poin yang dihasilkan aset yang non-umum (non-template), tetap saja suatu saat kita akan tersusul. Jangan lupa juga frase ‘FPL adalah marathon, bukan sprint’. Tim template, meskipun pelan-pelan, akan berubah seiring berjalannya waktu, dan total poin yang diraih 1 tim diakumulasikan tidak dalam 1 pekan saja, tetapi dalam sisa 6 pekan terakhir.

Saya tidak ‘melarang’ untuk bermain sesuai template, tidak sama sekali, tetapi jangan lupa, bahwa FPL dimainkan untuk mencari poin terbesar, bukan untuk menyusun tim sesuai template. Tentu benar, ada alasan yang jelas mengapa template terbentuk. Biasanya, pemain template adalah pemain yang paling berpotensi mendulang poin. Mengapa Harry Kane memiliki EO hingga 216.78% di pekan 32? Tentu karena peluangnya mendapatkan poin besar, tapi tentu setiap pemain memiliki plus minusnya masing-masing. Harry Kane tidak akan bermain di gameweek 33. Hal inilah yang perlu dimanfaatkan dengan perencanaan tim yang jelas.

STRATEGI MENYERANG

Untuk ‘menyerang’, berlawanan dengan pemikiran sebelumnya, kita perlu membuat rencana bukan agar poin tim kita tidak ketinggalan, tetapi bagaimana poin tim kita lebih besar dari tim di sekitar kita. Caranya? Tentu dengan memiliki pemain yang menghasilkan poin lebih besar dari pemain yang dimiliki oleh pesaing kita. Mudah dituliskan, mudah diucapkan, tetapi sulit dilakukan karena kita tidak bisa melihat masa depan.

Aplikasinya, menyerang dalam FPL dilakukan dengan cara memiliki pemain pembeda atau diferensial. Namun, istilah ‘diferensial’ dalam FPL ini sangat sering disalah-artikan, bahkan oleh pemain FPL yang dikategorikan ‘senior’, ‘konten kreator’, dan lainnya. Banyak orang memiliki pemain diferensial dengan tujuan agar timnya ‘berbeda’ (translasi yang sangat lateral), namun seperti konsep sederhana yang sudah disebutkan di atas, pemenang FPL bukanlah manajer dengan tim yang paling ‘berbeda’. Perlu diingat bahwa pemain diferensial kita miliki dengan tujuan mendapatkan poin lebih besar dari pemain yang dimiliki tim lain. Jika kita memilih Pablo Fornals dibanding Jesse Lingard dengan alasan ‘memiliki pembeda’, maka alih-alih menyerang, justru kita bunuh diri.

Lantas, bagaimana cara mendapatkan diferensial yang tepat? Jawabannya, kita perlu samakan dulu konsep berfikir kita. Kita TIDAK akan pernah tau berapa poin FPL yang akan dicetak seorang pemain sebelum deadline. Yang bisa kita lakukan adalah memperkirakan pemain mana yang memiliki peluang mencetak poin FPL terbesar dengan melakukan analisis sebelum deadline. Analisis menjadi kata kunci utama di sini. Mari kita sedikit aplikasikan dengan dua kasus berbeda.

Kasus pertama, saya sedang bingung untuk memilih 1 orang penyerang untuk mengisi spot premium di tim saya untuk persiapan pekan ke-32. Apakah sebaiknya Lacazette atau Kane yang saya ambil? Berpura-puralah kita tidak tahu jika Kane mencetak 2 gol ke gawang Everton dan Lacazette mengalami cedera. Tidak ada yang tahu hal tersebut akan terjadi sebelum deadline. Mari analisis masing-masing pro dan kontra Lacazette dan Kane.

Lacazette menuju gameweek 32:

  • on form, mencetak 4 gol dari 4 pertandingan terakhir liga Inggris (gameweek 28 – gameweek 31)
  • moral tinggi tim Arsenal yang baru mendapatkan kemenangan untuk memastikan tiket mereka di semifinal Piala Eropa
  • memiliki sisa pertandingan melawan FUL, NEW, WBA, CRY, dan WBA hingga akhir musim
  • sebelum berita mengenai Aubameyang terkena malaria yang keluar setelah deadline, Lacazette terancam rotasi dengan Aubameyang
  • kelelahan setelah bermain penuh waktu berturut-turut di liga Inggris dan Piala Eropa
  • performa Arsenal, meskipun menang di pertandingan terakhir, namun secara umum sering inkonsisten
  • Fulham yang menjadi lawan di gameweek 32 sedang berjuang keluar dari zona degradasi

Harry Kane menuju gameweek 32:

  • on form, mencetak 5 gol dari 5 pertandingan terakhir liga Inggris (gameweek 27 – gameweek 31, tidak termasuk melawan Everton)
  • sedang dalam puncak performa musim ini, menduduki top scorer sekaligus top assist liga Inggris hingga saat tulisan ini dibuat
  • memiliki double gameweek 32 dengan fixture baik melawan Everton dan Southampton, dan jadwal baik juga di gameweek 34 melawan Sheffield United, belum lagi Leeds, Wolves, dan Aston Villa
  • setelah hanya menyisakan harapan gelar di ajang Carabao Cup, menjadi top scorer liga Inggris menjadi 1″nya target yang tersisa untuk Harry Kane
  • kapten tim, memiliki peluang bermain 90 menit terbesar jika tidak cedera
  • pengambil tendangan penalti utama
  • meskipun performa Spurs secara tim masih labil, Kane tetap stabil dengan mencetak 9 gol di liga Inggris sepanjang tahun kalender ini
  • memiliki blank gameweek di pekan ke-33

Bisa dilihat dari 2 analisis di atas, bahwa walaupun Lacazette memiliki banyak poin positif, namun sisi pro Harry Kane jauh lebih banyak. Apakah ini berarti bahwa Lacazette tidak mungkin menghasilkan poin lebih besar dari Harry Kane? TIDAK SAMA SEKALI. Apa pun bisa terjadi di sepakbola, dan justru itulah keindahannya. Manchester City gagal mencetak gol ke gawang Chelsea di semifinal FA Cup yang baru digelar, padahal dalam 2 pertandingan sebelumnya, Chelsea kebobolan 6 gol oleh Westbrom dan Crystal Palace. Segala hal mungkin terjadi, tetapi analisis sebelum gameweek 32 memberikan gambaran bahwa Harry Kane memiliki potensi lebih besar untuk mencetak poin lebih besar dari Lacazette. Memilih Lacazette dibanding Harry Kane bukan sebuah kesalahan jika analisis Anda menganalisis bahwa peluang Lacazette lebih besar dibanding Kane untuk mendulang poin. Tetapi jika Anda memilih Lacazette sebagai ‘pembeda’, walaupun Anda sadar bahwa Kane lebih berpotensi, Anda sudah menunjukkan ketidakpahaman Anda terhadap konsep yang sederhana, yaitu pemenang FPL adalah tim yang memiliki poin tertinggi. Jika Anda menganalisis bahwa Kane lebih baik, pilihlah Kane. Jika Anda menganalisis bahwa Lacazette lebih baik, pilihlah Lacazette. Tapi jangan memilih Lacazette di saat analisis Anda menyatakan bahwa Kane lebih baik, dengan alasan perlu ‘menyerang’ dengan mengambil pembeda. Itu bunuh diri, bukan menyerang.

Kasus kedua, mari kita buat lebih ‘ketat’. Dari saat ini, persiapan gameweek 33 menuju akhir musim, siapakah yang perlu saya pilih, Jesse Lingard atau Mason Greenwood? Mari terapkan analisis sederhana antara 2 aset tersebut.

Jesse Lingard:

  • on form, mencetak 7 gol dan 4 assist dari gameweek 24 hingga gameweek 32
  • motivasi West Ham menembus zona Liga Champion dan motivasi pribadi berpartisipasi di Euro
  • (mungkin) pengambil tendangan penalti
  • West Ham kehilangan Declan Rice, Michail Antonio, Aaron Cresswell, tiga sosok penting dalam tim di waktu yang bersamaan
  • baru mengalami cedera ringan di pertandingan terakhirnya
  • akan menjalani jadwal cukup berat melawan Chelsea di pekan ke-33

Mason Greenwood:

  • on form, mencetak 4 gol dan 1 assist dalam 3 pertandingan terakhir
  • kepercayaan diri sedang meningkat, ditunjukkan dengan banyaknya percobaan tembakan yang dilakukan
  • memiliki jadwal baik di pekan ke-33 (vs Leeds)
  • ancaman rotasi dengan Cavani, Rashford, dan James
  • jadwal padat Manchester United di Piala Eropa

Dapat dilihat di atas bahwa dari analisis singkat saya, kedua pemain memiliki pro dan kontra yang seimbang. Lingard yang adalah pemain template, tidak jauh lebih baik dari Greenwood. Untuk kasus ini, jika saya ‘bertahan’, maka saya akan memilih Lingard. Namun, jika saya ‘menyerang’, bukan bunuh diri ya, saya akan memilih Greenwood. Ada kalkulasi yang dilakukan di sini, bukan ‘membedakan’ tim karena perlu ‘pembeda’.

PENUTUP

Sekian tulisan dari saya untuk KoFPLI tips kali ini. Semoga tulisan ini bisa memberikan pencerahan mengenai konsep menyerang dan bertahan menuju akhir musim dan meningkatkan kualitas literasi para manajer FPL Indonesia. Mari lari semakin cepat menuju garis finish dengan kerangka berfikir yang bijaksana. Bertahan, bukan ‘membosankan’. Menyerang, bukan ‘bunuh diri’. We are in the endgame now. -Steven-

Update Situasi FPL Saat ini

Pada KoFPLI Tips kali ini, saya bermaksud melihat beberapa fakta dan data yang terjadi di Premier League akhir-akhir ini. Untuk menjaga relevansi informasi pada tulisan ini, semua data yang ditampilkan memiliki periode yang sama, yaitu sejak bulan Februari (gameweek 22) hingga saat ini. Siapa aset terbaik di FPL selama periode tersebut? Tim mana saja yang bisa kita targetkan untuk dipunyai asetnya berdasarkan performanya? Saya usahakan membahas semua hal tersebut pada tulisan ini.

27 – jumlah gol Manchester City merupakan yang terbanyak di liga Inggris, 8 lebih banyak dari pesaing terdekatnya mengenai metric ini, Manchester United, sejak bulan Februari. Setelah mendapatkan titel sebelumnya sebagai pertahanan terbaik, sejak bulan Februari Manchester City sedikit mengubah gaya permainannya menjadi lebih menyerang dari sebelumnya.

0 – jumlah nirbobol (cleansheet) tim Arsenal sejak bulan Februari, paling sedikit dari semua tim lainnya. Meskipun mencatatkan 0 nirbobol, pertahanan Arsenal sebenarnya tidak terlalu buruk, dengan jumlah kebobolan hanya 9 gol. Sebagai perbandingan, jumlah tersebut hanya lebih sedikit 1 gol saja dengan jumlah kebobolan pemuncak klasemen saat ini, Manchester City.

37.7 – rata-rata persentase posesi bola (ball possession) Crystal Palace merupakan yang terendah sejak bulan Februari. Meskipun begitu, posesi bola Crystal Palace di daerah pertahanan lawan (final 3rd) (34.8%) masih lebih baik dari West Ham United (31.9%) dan Everton (32.7%).

99 – jumlah sentuhan seluruh pemain Crystal Palace di kotak penalti lawan, terendah dari seluruh tim di Liga Inggris. Metric ini menunjukkan rendahnya ancaman serangan Crystal Palace, dengan rata-rata 12.4 sentuhan saja per pertandingan di kotak 16. Pada ekstrim lainnya, Manchester City berhasil mencatatkan 342 sentuhan di periode yang sama, dengan rata-rata 34.2 sentuhan di kotak penalti lawan per pertandingan.

187 – jumlah percobaan umpan silang Liverpool merupakan yang terbanyak di Liga Inggris pada periode ini, meskipun akurasinya hanya 30%, terendah ketiga dari semua tim. Fakta mengejutkan lainnya adalah proporsi sumber umpan silang, di mana hanya 38% dari total percobaan umpan silang Liverpool yang berasal dari sisi kiri di mana Andrew Robertson beroperasi, peringkat kedua terendah. Sebagai pembanding, tim seperti Aston Villa dengan dominasi Matt Targett di sisi kirinya, 62% percobaan umpan silangnya berasal dari teritori tersebut.

33 – jumlah percobaan tembakan ke gawang lawan via situasi bola mati dari Southampton, peringkat 1 dari seluruh tim. Jika pertahanannya bisa membaik, bek tengah jangkung seperti Jannik Vestegaard bisa sangat menarik untuk dilirik sebagai aset FPL. Pada spektrum ekstrim lainnya, Arsenal adalah tim paling tidak berbahaya via situasi bola mati dengan mencatatkan hanya 8 percobaan tembakan ke gawang lawan via set play.

130 – jumlah percobaan tembakan yang berhasil dilakukan oleh lawan-lawan dari Crystal Palace pada periode tersebut, terbanyak di liga Inggris. Dari jumlah tersebut, 88 dilakukan oleh lawan dari dalam kotak penalti Crystal Palace, juga terbanyak dibanding seluruh tim lain. 34 percobaan tembakan via sundulan dan 41 percobaan tembakan via situasi bola mati yang diterima tim asuhan Roy Hodgson juga merupakan yang tertinggi, menunjukkan lemahnya pertahanan Crystal Palace menahan berbagai macam variasi serangan, terutama dari skema umpan silang.

5 – jumlah ‘error leading to goals’, atau ‘kesalahan menuju kebobolan’ yang dimiliki Liverpool merupakan yang paling banyak di Liga Inggris sejak bulan Februari. Sebagai perbandingan, sebanyak 13 tim memiliki kesalahan tidak lebih dari 1 saja dalam periode yang sama.

33.3% – konversi tendangan sudut Chelsea merupakan angka tertinggi di Liga Inggris. Metric ini menunjukkan persentase jumlah tendangan sudut yang berhasil diklaim oleh Chelsea menjadi percobaan tembakan. Aset-aset pengambil tendangan sudut dan target dari umpan silangnya pun menjadi menarik, seperti Mason Mount, Thiago Silva, dan Anthony Rudiger.

-5.07 – expected goals delta kedua terburuk yang dimiliki Brighton and Hove Albion, menunjukkan tumpulnya lini penyerangan tim ini. Memiliki expected goals sebanyak 5.07, hanya lebih sedikit dari Manchester City, Manchester United, Chelsea, dan Leicester City, Brighton hanya berhasil 6 gol saja, setara dengan Crystal Palace.

+3.00 – expected goals prevented Emi Martinez, terbaik dari seluruh kiper yang memiliki menit bermain sejak bulan Februari. Meskipun digedor dengan banyak tembakan dan, bahkan, tembakan berkualitas (dilihat dari jumlah percobaan tembakan lawan dan expected goals on target conceded Aston Villa), Emi Martinez tampil gemilang hingga saat ini sudah mengemas 49 poin sejak gameweek 22.

841 – jumlah sentuhan Trent Alexander-Arnold di daerah lawan (opposition half) merupakan yang terbanyak di Liga Inggris dari seluruh aset pemain bertahan FPL. Jumlah ini melampaui aset bek sayap lainnya seperti Andrew Robertson (754), Joao Cancelo (727), dan Luke Shaw (686)

16 – jumlah umpan silang sukses Luke Shaw, tertinggi di antara para aset pemain bertahan lainnya sejak bulan Februari. Luke Shaw juga mencatatkan chances created tertinggi dengan 22 buah chances created yang terkonversi menjadi 4 assists, lagi-lagi yang terbanyak di Liga Inggris. Aaron Cresswell berada di posisi kedua dengan 11 chances created dan 2 assists.

5 – jumlah percobaan tembakan tepat sasaran oleh Liam Cooper dan Nelson Semedo merupakan yang terbanyak di Liga Inggris di antara para aset pemain bertahan FPL, meskipun belum menghasilkan 1 gol pun untuk Leeds United ataupun Wolverhampton Wanderers. Menyusul dengan 4 percobaan tembakan tepat sasaran adalah Tosin Adarabioyo, Marcos Alonso, Joel Veltman, dan Luke Shaw.

69 – jumlah total clearance, block, dan interception (CBI) Kyle Bartley merupakan yang terbanyak di Liga Inggris di antara para aset pemain bertahan FPL. Clearance terbanyak dilakukan oleh Tosin Adarabioyo (49), interception oleh Jan Bednarek (26), dan block oleh Ezri Konsa (17).

70 – jumlah percobaan umpan silang terbanyak selama periode tersebut di antara para aset gelandang FPL, dilakukan oleh Raphinha. Percobaan umpan silangnya pun memiliki akurasi cukup baik, dengan jumlah umpan silang sukses sejumlah 17 (terbanyak kedua). Umpan silang sukses dilakukan oleh Pascal Gross (18). Raphinha juga mencatatkan chances created terbanyak (23) dan big chances terbanyak (6 – sama dengan Son Heung Min) pada periode tersebut.

23 – jumlah percobaan tembakan yang dilakukan, lagi-lagi, oleh Raphinha, juga merupakan yang terbanyak. Jumlah percobaan tembakan dari dalam kotak penaltinya juga (16) merupakan yang terbanyak di Liga Inggris, dengan percobaan tembakan tepat sasaran (10) hanya kalah dari Jesse Lingard (11) dan Bruno Fernandes (11).

2.64 – expected assist terbesar di antara para gelandang FPL sejak bulan Februari, dimiliki oleh, lagi-lagi, Raphinha. Raphinha juga memiliki goal threat sangat besar, dengan xG = 2.26 (peringkat 10) dan total expected goals involvement 4.90 merupakan yang terbaik ketiga di antara para gelandang, di bawah Ilkay Gundogan (5.43) dan Bruno Fernandes (5.42).

6 – jumlah gol terbanyak yang dicetak oleh aset penyerang FPL, Kelechi Iheanacho. Iheanacho juga memiliki jumlah ‘big chance’ terbanyak (8), serta goal convertion terbaik (33.3%) dari seluruh penyerang yang melakukan percobaan tembakan lebih dari 6.

Chip Terbaik untuk DGW26

Akhir pekan ini, para manajer FPL akan dihadapkan dengan Double Gameweek (DGW) terbesar musim ini, berlangsung dari Sabtu 27 Februari 2021 sampai dengan Jumat 5 Maret 2021 dini hari, dengan 7 fixture tambahan (total 17 pertandingan).

Tim mana saja yang bermain 2 kali di DGW kali ini?
Berikut daftarnya, diurutkan berdasarkan total Fixture Difficulty Rating termudah versi Official FPL:

  1. Tottenham Hotspurs (Total FDR = 4)
  2. Aston Villa (Total FDR = 5)
  3. Leicester City (Total FDR = 5)
  4. West Bromwich Albion (Total FDR = 5)
  5. Everton (Total FDR = 5)
  6. Liverpool (Total FDR = 6)
  7. Manchester City (Total FDR = 6)
  8. Crystal Palace (Total FDR = 6)
  9. Fulham (Total FDR = 7)
  10. Manchester United (Total FDR = 7)
  11. Sheffield United (Total FDR = 7)
  12. Burnley (Total FDR = 8)
  13. Wolverhampton Wanderers (Total FDR = 8)
  14. Chelsea (Total FDR = 9)
credit: twitter.com/bencrellin

Lalu, bagaimana cara kita memaksimalkan poin di DGW26 (dan GW selanjutnya)?
Chip mana yang sebaiknya digunakan?

Bench Boost DGW26

Sebagian manajer sudah merencanakan penggunaan chip Bench Boost (BB) untuk DGW26 dengan cara menggunakan Wildcard (WC) di GW25 untuk mengambil pemain yang berasal dari tim yang bermain 2x di DGW26.

Untuk manajer yang tidak menggunakan WC di GW25, tetap bisa memaksimalkan DGW26, dengan beberapa point hits (minus). Asumsikan, seluruh pemain di bench (4 pemain) bermain minimal 60 menit di 2 pertandingan, artinya kalian akan mendapatkan minimal 4 x 2 x 2 = 16 poin hanya dari bench jika mengaktifkan BB. Maka point hits sampai dengan -16 dirasa masih masuk akal untuk digunakan, walaupun tidak terlalu direkomendasikan.

Berikut beberapa nama beberapa pemain murah di tiap posisi untuk melengkapi tim kalian jika menggunakan chip BB:

  • Goalkeeper (Johnstone-WBA-£4.5m, Areola-FUL-£4.5m)
  • Defender (Holgate-EVE-£4.8m, Davies-TOT-£4.6m, El Mohamady-AVL-£4.3m, Tete-FUL-£4.3m, Jagielka-SHU-£3.9m, Bogle/Ampadu-SHU-£4.3m)
  • Midfielder (Dendoncker-WOL-£4.6m, Jorginho-CHE-£4.7m, Reed-FUL-£4.4m, Jones-LIV-£4.4m, Yokuslu-WBA-£4.5m, Riedewald-CRY-£4.5m, Norwood-SHU-£4.5m)
  • Forward (Maja-FUL-£5.5m, McGoldrick-SHU-£5.2m)

Kelebihan dari penggunaan chip BB di DGW26 adalah adanya potensi poin maksimal dari 15 pemain yang bermain 2 pertandingan di dalam 1 gameweek.
Berikut adalah contoh draft tim yang cocok untuk dikawinkan dengan chip BB (asumsi budget ±£100m):

GK: Martinez (AVL) – Johnstone (WBA)
D: Stones (MCI) – Shaw (MUN) – Holgate (EVE) – Jagielka (SHU) – El Mohamady (AVL)
M: Fernandes (MUN) – Salah (LIV) – Son (TOT) – Gundogan (MCI) – Reed (FUL)
F: Watkins (AVL) – DCL (Everton) – Kane (TOT)

Kekurangan dari penggunaan chip BB di DGW26 adalah hilangnya peluang untuk memanfaatkan momentum penggunaan chip TC kepada beberapa nama premium yang berpotensi meledak di DGW26 dengan jadwal yang relatif mudah, misalnya Kane, Fernandes dll.

Alternatif lain penggunaan chip BB bisa digunakan di gameweek lain ketika pemain di bench dirasa memiliki jadwal yang cukup mudah dan berpotensi mendapatkan poin tinggi.

Triple Captain DGW26

Penggunaan chip Triple Captain (TC) di DGW26 akan sangat baik jika dipakaikan ke pemain yang tepat.
Beberapa nama potensial untuk mengemban amanah Triple Captain di DGW26 di antaranya:

  • Mo Salah / Sadio Mane vs (SHU (A) + CHE (H))
  • Jamie Vardy vs (ARS (H) + BUR (A))
  • Bruno Fernandes vs (CHE (A) + CRY (A))
  • Harry Kane / Heung Min Son vs (BUR (H) + FUL (A))
  • Raheem Sterling / Kevin De Bruyne vs (WHU (H) + WOL (H))

Tidak menutup kemungkinan, jika ada pemain lain di luar list ini yang memiliki poin lebih besar dan layak diberi chip TC.

Kelebihan dari penggunaan chip TC di DGW26 adalah kesempatan memaksimalkan poin TC dengan momentum double fixture yang potensial bagi beberapa tim papan atas, yang mungkin tidak akan terulang di gameweek lainnya.

Kekurangan dari penggunaan chip TC di DGW26 adalah kehilangan potensi penggunaan chip BB di DGW terbesar musim ini. Sehingga penggunaan chip BB di gameweek lainnya dirasa tidak seefektif di DGW26.

Alternatif lain penggunaan chip TC dapat digunakan di beberapa mini DGW seperti DGW27 (MCI vs ), DGW32 (TOT vs ), atau bahkan di single Gameweek bisa merupakan keputusan yang tepat jika TC jatuh di pemain yang tepat.

Wildcard DGW26

Penggunaan Wildcard (WC) di DGW26 bisa menjadi opsi bagi para manager untuk menavigasi hadirnya perubahan jadwal EPL musim ini.
Kita dapat merombak keseluruhan tim sesuai dengan info DGW/BGW untuk beberapa pekan ke depan.

Kelebihan dari penggunaan chip WC di DGW26 adalah kesempatan untuk memaksimalkan DGW26, DGW27, dan BGW29 (dibarengi dengan pemanfaatan jatah 3 Free Transfer untuk membeli pemain yang bermain di BGW29).
Berikut adalah contoh draft nya (asumsi budget ±£100m):
GK: Martinez (AVL) – Areola (FUL)
D: Cancelo (MCI) – Dier (TOT) – Targett (AVL) – Aina (FUL) – Bednarek (SOU)
M: Son (TOT) – KDB (MCI) – Gundogan (MCI) – Ward-Prowse (SOU) – Lookman (FUL)
F: Kane (TOT) – Watkins (AVL) – Ings (SOU)

Kekurangan dari penggunaan chip WC di DGW26 adalah hilangnya kesempatan untuk menggunakan chip TC dan BB di DGW26 yang sangat potensial untuk kedua chip tersebut.

Alternatif lain penggunaan chip WC dapat digunakan setelah international break di GW30, untuk menyeimbangkan tim setelah dimaksimalkan untuk mengambil pemain yang bermain di BGW29.

Free Hit DGW26

Kelebihan dari penggunaan chip FH di DGW26 adalah kesempatan untuk memaksimalkan budget untuk starting 11 di DGW26 dengan memilih bench semurah-murahnya.

Kekurangan dari penggunaan chip WC di DGW26 adalah hilangnya kesempatan untuk menggunakan chip TC dan BB di DGW26 yang sangat potensial untuk kedua chip tersebut. Terlebih lagi, kehilangan opsi escape plan untuk BGW29 yang dapat dinavigasi dengan mudah dengan chip TC.

Alternatif lain penggunaan chip FH dapat digunakan di BGW29 yang hanya terdiri dari 4 pertandingan, sehingga tidak menggangu rencana pemilihan pemain di GW28 dan GW30.


Akhir kata, chip apapun yang digunakan di DGW26, bisa disesuaikan dengan kondisi tim masing-masing, dengan memperhatingan kelebihan dan kekurangan dari penggunaan chip di DGW26 ini.

Semoga decision apapun yang diambil, bukan hanya karena ikut-ikutan, tetapi karena betul-betul paham risiko dan manfaat apa yang akan didapat untuk tim kita.

Salam panah hijau!