Menikmati FPL Dengan “Jalan Ninja” Masing-Masing

Tidak terasa musim baru segera bergulir, setelah liku kompetisi musim 2019/20 akibat dampak Covid-19 begitu menguras emosi. Ya, English Premier League (EPL) atau yang fasih disebut sebagai Liga Inggris menyisakan cerita haru ketika Liverpool dan para pendukungnya merayakan gelar juara yang dinantikan berpuluh tahun lamanya. Tak terbayang, ketika gelar didepan mata kompetisi sempat ditunda, dibumbui isu pemberhentian kompetisi. Betapa tersiksa perasaan mereka yang merindu gelar juara.

Awal musim ini meski masih dalam suasana yang tidak jauh beda dengan akhir musim lalu, dimana protokol kesehatan ketat diberlakukan, dan pertandingan (mungkin) tidak boleh disaksikan langsung oleh para supporter di stadion, tetap saja gelaran EPL tetap dinantikan. Kalau tidak salah rasa, yang paling militan dalam mengharap bergulirnya Liga Inggris adalah para manajer, iya, manajer fantasi yang semakin tahun semakin bertambah.

Image source: @OfficialFPL

Nah, bicara mengenai manajer fantasi, tentu tak bisa dipisahkan dengan yang namanya Fantasy Premier League atau umum disebut dengan FPL. Tidak perlu dipanjang lebarkan, toh bertumbuh dan bertambahnya manajer FPL di Indonesia adalah kabar baik, dimana suatu ketika nanti harapannya akan hadir juara dunia FPL yang berasal dari Indonesia.

Layaknya manajer sungguhan, manajer FPL tentu tidak kalah serius dalam meracik strategi, karena memang ada iming-iming yang tidak kalah menarik bila tim yang dipegang bisa mendapat poin sebanyak mungkin dengan peringkat sebaik-baiknya. Selain liga global yang hadiahnya cukup menggiurkan, baik hadiah mingguan, bulanan maupun akhir kompetisi, sekarang ini bermunculan liga-liga lokal dengan hadiah yang tidak kalah menarik.

Liga mandiri atau yang biasa diberi istilah private league memberi semangat yang berlipat bagi para manajer, berlomba memenangkan liga membuat manajer menempuh banyak cara, memperkaya ilmu dan mendapatkan referensi sebanyak-banyaknya. Bergabung di grup WA menjadi salah satu solusi, selain mencari referensi lewat Twitter, Facebook, Instagram maupun media lainnya.

Dari yang tercatat di akun twitter @pisangij01, sampai tulisan ini dibuat sudah ada 164 liga, hampir 99% liga yang tercatat disitu adalah liga lokal Indonesia. Bayangkan, bila ingin mengikuti seluruh liga maka dibutuhkan tujuh akun FPL, karena satu akun maksimal hanya bisa mengikuti 25 liga. Belum lagi bila ada liga yang bersyarat, misal harus ada pemain dari klub tertentu, harus ini, harus itu, tentu tak cukup tujuh akun saja. Untungnya untuk membuat akun FPL itu gratis, dengan bermodal email sudah bisa membuat akun baru.

Ini baru jumlah yang tercatat, padahal masih banyak liga lain yang bertebaran di grup WA, Twitter, Instagram, Facebook maupun media sosial lainnya, baik dari dalam maupun luar negeri. Bagi yang mencoba bertahan untuk fokus ke satu atau beberapa akun saja, bongkar pasang liga tak jarang terjadi. Keluar liga yang satu, masuk liga yang lainnya. Betapa menyenangkan permainan ini.

Terkadang ada yang mempertanyakan kesanggupan manajer dalam mengurus tim yang lebih dari satu, tapi saya kira pertanyaan ini terlalu teknis, karena memang ada yang sangat serius dengan data dan statistik, ada juga yang mengandalkan feeling dan keberuntungan. Walau sebenarnya yang diharapkan oleh penyelenggara FPL adalah satu individu manajer satu tim, sebagaimana yang tercantum dalam syarat dan ketentuan poin nomor 6:

“There is no limit on the number of Registrations per household or organisation. However, only one Registration for the Game per user of the Site or App is permitted. Individuals are not permitted to register multiple accounts on the Site or App”.

Koreksi bila saya keliru.

Bagi Anda manajer FPL yang membaca tulisan ini, berapa akun yang Anda punya? Tidak perlu dijawab kalau memang jawabannya sulit, nikmati saja. Bila Anda pernah memenangkan satu hadiah, baik dari Official FPL maupun private league, maka itu akan menjadi candu, penyemangat untuk merindukan game week demi game week, berharap untuk dapat memenangkan hadiah berikutnya. Apa yang saya sampaikan ini tentu diluar konteks bahwa setiap manajer memiliki tujuan yang berbeda-beda dalam mengikuti permainan ini.

Keberadaan Komunitas FPL Indonesia (KoFPLI) sebagai wadah bagi manajer FPL di Indonesia sedikit banyak memberi warna tersendiri. Para manajer diberbagai wilayah mulai terorganisir, kekompakan dan kesamaan visi membuat para manajer semakin bergairah. Secara pribadi saya merasa ada pergeseran kearah yang lebih baik.

Quote by Cak Sambat

Saya teringat kutipan legendaris dari Cak Sambat: “Main Zuma kalau cari bahagia, FPL tempatnya sambat”. Dalam bahasa Indonesia, sambat berarti mengeluh. Memang tak mudah untuk meraih kebahagiaan dengan menjadi manajer FPL, mengacu dari apa yang disampaikan Cak Sambat tersebut. Tapi, barangkali dengan mengeluh kita bisa menikmati permainan ini.

Apapun itu, menurut saya segala sesuatu akan menyenangkan bila dinikmati. Umpatan dan keluh kesah bisa tumpah ruah di media sosial, tak terkecuali letupan bahagia ketika tim mendapat poin besar dan panah hijau. Saya tidak bicara salah atau benar dalam tulisan ini, setiap manajer punya “jalan ninja” masing-masing. Nikmati saja permainan ini, sensasi yang di rasa tentu berbeda-beda, semua akan sambat pada waktunya, sengaja maupun tidak. Toh bila musim ini tidak juara pun tetap akan kita rindukan musim berikutnya, bukan? Kalau tidak dapat juara musim ini, siapa tahu nasib baik di tahun berikutnya. Begitu.

Sukadi (@SukaFPL)

4 comments

  1. Good job. Great artickle.
    Jalan ninja ya….hmm level chunin makin banyak dari tahun ke tahun rasanya….
    Bisa dibayangkan bgmn servel epl official disana….😅.

    Anyway fpl bisa jadi lifestyle atau mgkin pekerjaan baru di musim pandemi….sbg influencer fpl….🤣🤣🤣

  2. Keren artikelnya, menjadi penuntun buat para penggemar FPL se Indonesia agar tetap woles dengan raihan nilai setiap GWnya. FPL suppose to be a fun game, isnt it?

Join the Conversation

Your email address will not be published. Required fields are marked *