Category: KoFPLI Tips

Update Situasi FPL Saat ini

Pada KoFPLI Tips kali ini, saya bermaksud melihat beberapa fakta dan data yang terjadi di Premier League akhir-akhir ini. Untuk menjaga relevansi informasi pada tulisan ini, semua data yang ditampilkan memiliki periode yang sama, yaitu sejak bulan Februari (gameweek 22) hingga saat ini. Siapa aset terbaik di FPL selama periode tersebut? Tim mana saja yang bisa kita targetkan untuk dipunyai asetnya berdasarkan performanya? Saya usahakan membahas semua hal tersebut pada tulisan ini.

27 – jumlah gol Manchester City merupakan yang terbanyak di liga Inggris, 8 lebih banyak dari pesaing terdekatnya mengenai metric ini, Manchester United, sejak bulan Februari. Setelah mendapatkan titel sebelumnya sebagai pertahanan terbaik, sejak bulan Februari Manchester City sedikit mengubah gaya permainannya menjadi lebih menyerang dari sebelumnya.

0 – jumlah nirbobol (cleansheet) tim Arsenal sejak bulan Februari, paling sedikit dari semua tim lainnya. Meskipun mencatatkan 0 nirbobol, pertahanan Arsenal sebenarnya tidak terlalu buruk, dengan jumlah kebobolan hanya 9 gol. Sebagai perbandingan, jumlah tersebut hanya lebih sedikit 1 gol saja dengan jumlah kebobolan pemuncak klasemen saat ini, Manchester City.

37.7 – rata-rata persentase posesi bola (ball possession) Crystal Palace merupakan yang terendah sejak bulan Februari. Meskipun begitu, posesi bola Crystal Palace di daerah pertahanan lawan (final 3rd) (34.8%) masih lebih baik dari West Ham United (31.9%) dan Everton (32.7%).

99 – jumlah sentuhan seluruh pemain Crystal Palace di kotak penalti lawan, terendah dari seluruh tim di Liga Inggris. Metric ini menunjukkan rendahnya ancaman serangan Crystal Palace, dengan rata-rata 12.4 sentuhan saja per pertandingan di kotak 16. Pada ekstrim lainnya, Manchester City berhasil mencatatkan 342 sentuhan di periode yang sama, dengan rata-rata 34.2 sentuhan di kotak penalti lawan per pertandingan.

187 – jumlah percobaan umpan silang Liverpool merupakan yang terbanyak di Liga Inggris pada periode ini, meskipun akurasinya hanya 30%, terendah ketiga dari semua tim. Fakta mengejutkan lainnya adalah proporsi sumber umpan silang, di mana hanya 38% dari total percobaan umpan silang Liverpool yang berasal dari sisi kiri di mana Andrew Robertson beroperasi, peringkat kedua terendah. Sebagai pembanding, tim seperti Aston Villa dengan dominasi Matt Targett di sisi kirinya, 62% percobaan umpan silangnya berasal dari teritori tersebut.

33 – jumlah percobaan tembakan ke gawang lawan via situasi bola mati dari Southampton, peringkat 1 dari seluruh tim. Jika pertahanannya bisa membaik, bek tengah jangkung seperti Jannik Vestegaard bisa sangat menarik untuk dilirik sebagai aset FPL. Pada spektrum ekstrim lainnya, Arsenal adalah tim paling tidak berbahaya via situasi bola mati dengan mencatatkan hanya 8 percobaan tembakan ke gawang lawan via set play.

130 – jumlah percobaan tembakan yang berhasil dilakukan oleh lawan-lawan dari Crystal Palace pada periode tersebut, terbanyak di liga Inggris. Dari jumlah tersebut, 88 dilakukan oleh lawan dari dalam kotak penalti Crystal Palace, juga terbanyak dibanding seluruh tim lain. 34 percobaan tembakan via sundulan dan 41 percobaan tembakan via situasi bola mati yang diterima tim asuhan Roy Hodgson juga merupakan yang tertinggi, menunjukkan lemahnya pertahanan Crystal Palace menahan berbagai macam variasi serangan, terutama dari skema umpan silang.

5 – jumlah ‘error leading to goals’, atau ‘kesalahan menuju kebobolan’ yang dimiliki Liverpool merupakan yang paling banyak di Liga Inggris sejak bulan Februari. Sebagai perbandingan, sebanyak 13 tim memiliki kesalahan tidak lebih dari 1 saja dalam periode yang sama.

33.3% – konversi tendangan sudut Chelsea merupakan angka tertinggi di Liga Inggris. Metric ini menunjukkan persentase jumlah tendangan sudut yang berhasil diklaim oleh Chelsea menjadi percobaan tembakan. Aset-aset pengambil tendangan sudut dan target dari umpan silangnya pun menjadi menarik, seperti Mason Mount, Thiago Silva, dan Anthony Rudiger.

-5.07 – expected goals delta kedua terburuk yang dimiliki Brighton and Hove Albion, menunjukkan tumpulnya lini penyerangan tim ini. Memiliki expected goals sebanyak 5.07, hanya lebih sedikit dari Manchester City, Manchester United, Chelsea, dan Leicester City, Brighton hanya berhasil 6 gol saja, setara dengan Crystal Palace.

+3.00 – expected goals prevented Emi Martinez, terbaik dari seluruh kiper yang memiliki menit bermain sejak bulan Februari. Meskipun digedor dengan banyak tembakan dan, bahkan, tembakan berkualitas (dilihat dari jumlah percobaan tembakan lawan dan expected goals on target conceded Aston Villa), Emi Martinez tampil gemilang hingga saat ini sudah mengemas 49 poin sejak gameweek 22.

841 – jumlah sentuhan Trent Alexander-Arnold di daerah lawan (opposition half) merupakan yang terbanyak di Liga Inggris dari seluruh aset pemain bertahan FPL. Jumlah ini melampaui aset bek sayap lainnya seperti Andrew Robertson (754), Joao Cancelo (727), dan Luke Shaw (686)

16 – jumlah umpan silang sukses Luke Shaw, tertinggi di antara para aset pemain bertahan lainnya sejak bulan Februari. Luke Shaw juga mencatatkan chances created tertinggi dengan 22 buah chances created yang terkonversi menjadi 4 assists, lagi-lagi yang terbanyak di Liga Inggris. Aaron Cresswell berada di posisi kedua dengan 11 chances created dan 2 assists.

5 – jumlah percobaan tembakan tepat sasaran oleh Liam Cooper dan Nelson Semedo merupakan yang terbanyak di Liga Inggris di antara para aset pemain bertahan FPL, meskipun belum menghasilkan 1 gol pun untuk Leeds United ataupun Wolverhampton Wanderers. Menyusul dengan 4 percobaan tembakan tepat sasaran adalah Tosin Adarabioyo, Marcos Alonso, Joel Veltman, dan Luke Shaw.

69 – jumlah total clearance, block, dan interception (CBI) Kyle Bartley merupakan yang terbanyak di Liga Inggris di antara para aset pemain bertahan FPL. Clearance terbanyak dilakukan oleh Tosin Adarabioyo (49), interception oleh Jan Bednarek (26), dan block oleh Ezri Konsa (17).

70 – jumlah percobaan umpan silang terbanyak selama periode tersebut di antara para aset gelandang FPL, dilakukan oleh Raphinha. Percobaan umpan silangnya pun memiliki akurasi cukup baik, dengan jumlah umpan silang sukses sejumlah 17 (terbanyak kedua). Umpan silang sukses dilakukan oleh Pascal Gross (18). Raphinha juga mencatatkan chances created terbanyak (23) dan big chances terbanyak (6 – sama dengan Son Heung Min) pada periode tersebut.

23 – jumlah percobaan tembakan yang dilakukan, lagi-lagi, oleh Raphinha, juga merupakan yang terbanyak. Jumlah percobaan tembakan dari dalam kotak penaltinya juga (16) merupakan yang terbanyak di Liga Inggris, dengan percobaan tembakan tepat sasaran (10) hanya kalah dari Jesse Lingard (11) dan Bruno Fernandes (11).

2.64 – expected assist terbesar di antara para gelandang FPL sejak bulan Februari, dimiliki oleh, lagi-lagi, Raphinha. Raphinha juga memiliki goal threat sangat besar, dengan xG = 2.26 (peringkat 10) dan total expected goals involvement 4.90 merupakan yang terbaik ketiga di antara para gelandang, di bawah Ilkay Gundogan (5.43) dan Bruno Fernandes (5.42).

6 – jumlah gol terbanyak yang dicetak oleh aset penyerang FPL, Kelechi Iheanacho. Iheanacho juga memiliki jumlah ‘big chance’ terbanyak (8), serta goal convertion terbaik (33.3%) dari seluruh penyerang yang melakukan percobaan tembakan lebih dari 6.

Chip Terbaik untuk DGW26

Akhir pekan ini, para manajer FPL akan dihadapkan dengan Double Gameweek (DGW) terbesar musim ini, berlangsung dari Sabtu 27 Februari 2021 sampai dengan Jumat 5 Maret 2021 dini hari, dengan 7 fixture tambahan (total 17 pertandingan).

Tim mana saja yang bermain 2 kali di DGW kali ini?
Berikut daftarnya, diurutkan berdasarkan total Fixture Difficulty Rating termudah versi Official FPL:

  1. Tottenham Hotspurs (Total FDR = 4)
  2. Aston Villa (Total FDR = 5)
  3. Leicester City (Total FDR = 5)
  4. West Bromwich Albion (Total FDR = 5)
  5. Everton (Total FDR = 5)
  6. Liverpool (Total FDR = 6)
  7. Manchester City (Total FDR = 6)
  8. Crystal Palace (Total FDR = 6)
  9. Fulham (Total FDR = 7)
  10. Manchester United (Total FDR = 7)
  11. Sheffield United (Total FDR = 7)
  12. Burnley (Total FDR = 8)
  13. Wolverhampton Wanderers (Total FDR = 8)
  14. Chelsea (Total FDR = 9)
credit: twitter.com/bencrellin

Lalu, bagaimana cara kita memaksimalkan poin di DGW26 (dan GW selanjutnya)?
Chip mana yang sebaiknya digunakan?

Bench Boost DGW26

Sebagian manajer sudah merencanakan penggunaan chip Bench Boost (BB) untuk DGW26 dengan cara menggunakan Wildcard (WC) di GW25 untuk mengambil pemain yang berasal dari tim yang bermain 2x di DGW26.

Untuk manajer yang tidak menggunakan WC di GW25, tetap bisa memaksimalkan DGW26, dengan beberapa point hits (minus). Asumsikan, seluruh pemain di bench (4 pemain) bermain minimal 60 menit di 2 pertandingan, artinya kalian akan mendapatkan minimal 4 x 2 x 2 = 16 poin hanya dari bench jika mengaktifkan BB. Maka point hits sampai dengan -16 dirasa masih masuk akal untuk digunakan, walaupun tidak terlalu direkomendasikan.

Berikut beberapa nama beberapa pemain murah di tiap posisi untuk melengkapi tim kalian jika menggunakan chip BB:

  • Goalkeeper (Johnstone-WBA-£4.5m, Areola-FUL-£4.5m)
  • Defender (Holgate-EVE-£4.8m, Davies-TOT-£4.6m, El Mohamady-AVL-£4.3m, Tete-FUL-£4.3m, Jagielka-SHU-£3.9m, Bogle/Ampadu-SHU-£4.3m)
  • Midfielder (Dendoncker-WOL-£4.6m, Jorginho-CHE-£4.7m, Reed-FUL-£4.4m, Jones-LIV-£4.4m, Yokuslu-WBA-£4.5m, Riedewald-CRY-£4.5m, Norwood-SHU-£4.5m)
  • Forward (Maja-FUL-£5.5m, McGoldrick-SHU-£5.2m)

Kelebihan dari penggunaan chip BB di DGW26 adalah adanya potensi poin maksimal dari 15 pemain yang bermain 2 pertandingan di dalam 1 gameweek.
Berikut adalah contoh draft tim yang cocok untuk dikawinkan dengan chip BB (asumsi budget ±£100m):

GK: Martinez (AVL) – Johnstone (WBA)
D: Stones (MCI) – Shaw (MUN) – Holgate (EVE) – Jagielka (SHU) – El Mohamady (AVL)
M: Fernandes (MUN) – Salah (LIV) – Son (TOT) – Gundogan (MCI) – Reed (FUL)
F: Watkins (AVL) – DCL (Everton) – Kane (TOT)

Kekurangan dari penggunaan chip BB di DGW26 adalah hilangnya peluang untuk memanfaatkan momentum penggunaan chip TC kepada beberapa nama premium yang berpotensi meledak di DGW26 dengan jadwal yang relatif mudah, misalnya Kane, Fernandes dll.

Alternatif lain penggunaan chip BB bisa digunakan di gameweek lain ketika pemain di bench dirasa memiliki jadwal yang cukup mudah dan berpotensi mendapatkan poin tinggi.

Triple Captain DGW26

Penggunaan chip Triple Captain (TC) di DGW26 akan sangat baik jika dipakaikan ke pemain yang tepat.
Beberapa nama potensial untuk mengemban amanah Triple Captain di DGW26 di antaranya:

  • Mo Salah / Sadio Mane vs (SHU (A) + CHE (H))
  • Jamie Vardy vs (ARS (H) + BUR (A))
  • Bruno Fernandes vs (CHE (A) + CRY (A))
  • Harry Kane / Heung Min Son vs (BUR (H) + FUL (A))
  • Raheem Sterling / Kevin De Bruyne vs (WHU (H) + WOL (H))

Tidak menutup kemungkinan, jika ada pemain lain di luar list ini yang memiliki poin lebih besar dan layak diberi chip TC.

Kelebihan dari penggunaan chip TC di DGW26 adalah kesempatan memaksimalkan poin TC dengan momentum double fixture yang potensial bagi beberapa tim papan atas, yang mungkin tidak akan terulang di gameweek lainnya.

Kekurangan dari penggunaan chip TC di DGW26 adalah kehilangan potensi penggunaan chip BB di DGW terbesar musim ini. Sehingga penggunaan chip BB di gameweek lainnya dirasa tidak seefektif di DGW26.

Alternatif lain penggunaan chip TC dapat digunakan di beberapa mini DGW seperti DGW27 (MCI vs ), DGW32 (TOT vs ), atau bahkan di single Gameweek bisa merupakan keputusan yang tepat jika TC jatuh di pemain yang tepat.

Wildcard DGW26

Penggunaan Wildcard (WC) di DGW26 bisa menjadi opsi bagi para manager untuk menavigasi hadirnya perubahan jadwal EPL musim ini.
Kita dapat merombak keseluruhan tim sesuai dengan info DGW/BGW untuk beberapa pekan ke depan.

Kelebihan dari penggunaan chip WC di DGW26 adalah kesempatan untuk memaksimalkan DGW26, DGW27, dan BGW29 (dibarengi dengan pemanfaatan jatah 3 Free Transfer untuk membeli pemain yang bermain di BGW29).
Berikut adalah contoh draft nya (asumsi budget ±£100m):
GK: Martinez (AVL) – Areola (FUL)
D: Cancelo (MCI) – Dier (TOT) – Targett (AVL) – Aina (FUL) – Bednarek (SOU)
M: Son (TOT) – KDB (MCI) – Gundogan (MCI) – Ward-Prowse (SOU) – Lookman (FUL)
F: Kane (TOT) – Watkins (AVL) – Ings (SOU)

Kekurangan dari penggunaan chip WC di DGW26 adalah hilangnya kesempatan untuk menggunakan chip TC dan BB di DGW26 yang sangat potensial untuk kedua chip tersebut.

Alternatif lain penggunaan chip WC dapat digunakan setelah international break di GW30, untuk menyeimbangkan tim setelah dimaksimalkan untuk mengambil pemain yang bermain di BGW29.

Free Hit DGW26

Kelebihan dari penggunaan chip FH di DGW26 adalah kesempatan untuk memaksimalkan budget untuk starting 11 di DGW26 dengan memilih bench semurah-murahnya.

Kekurangan dari penggunaan chip WC di DGW26 adalah hilangnya kesempatan untuk menggunakan chip TC dan BB di DGW26 yang sangat potensial untuk kedua chip tersebut. Terlebih lagi, kehilangan opsi escape plan untuk BGW29 yang dapat dinavigasi dengan mudah dengan chip TC.

Alternatif lain penggunaan chip FH dapat digunakan di BGW29 yang hanya terdiri dari 4 pertandingan, sehingga tidak menggangu rencana pemilihan pemain di GW28 dan GW30.


Akhir kata, chip apapun yang digunakan di DGW26, bisa disesuaikan dengan kondisi tim masing-masing, dengan memperhatingan kelebihan dan kekurangan dari penggunaan chip di DGW26 ini.

Semoga decision apapun yang diambil, bukan hanya karena ikut-ikutan, tetapi karena betul-betul paham risiko dan manfaat apa yang akan didapat untuk tim kita.

Salam panah hijau!

STRATEGI PENGGUNAAN CHIP MENGHADAPI DOUBLE GAMEWEEK 24, 25, 26, 27, DAN BLANK GAMEWEEK 29

PENDAHULUAN

Dua hari sebelum tenggat waktu gameweek 23 FPL musim ini, tepatnya tanggal 4 Februari 2021 lalu, para manajer FPL mendapatkan kabar kepastian mengenai penjadwalan ulang laga tunda Liga Inggris. Terdapat setidaknya 3 laga yang sudah dijadwalkan ulang, baik dari sisi Liga Inggris ataupun FPL, yaitu Everton vs Manchester City dan Burnley vs Fulham di gameweek 24, serta Leeds United vs Southampton di gameweek 25. Detail jadwal yang telah dikonfirmasi dapat dilihat pada Tabel 1 di bawah ini.

Tabel 1. Jadwal double dan blank gameweek hingga gameweek 29

Jadwal ini tentunya berpengaruh besar bagi strategi penggunaan chips para manajer FPL, baik untuk yang mencoba ‘bertahan’ agar overall rank-nya tidak turun, ataupun untuk yang mencoba ‘menyerang’ untuk meningkatkan overall rank. Dalam artikel ini, saya mencoba membahas beberapa strategi yang dapat dilakukan sesuai kombinasi ketersediaan chip masing-masing manajer. Semoga bermanfaat!

MANAJER NONCHIP (BERTAHAN DI DGW26 DAN BGW29)

Bagi para manajer yang telah ‘menyerang’ blank gameweek 18 dan double gameweek 19, rentetan double gameweek (DGW) dan blank gameweek (BGW) kali ini tentu lebih tepat untuk ‘bertahan’. Menurut pendapat saya pribadi, tanpa menggunakan chip wildcard (WC) ataupun Free Hit (FH), tentu sangat sulit untuk dapat melalui periode ini dengan overall rank yang tetap stabil di tiernya. Terdapat dua strategi yang dapat saya rekomendasikan untuk para manager tanpa chip FH, tetapi masih memiliki WC, yaitu:

  1. Mempersiapkan tim yang seimbang untuk melalui DGW26 dan BGW29, kemudian mengaktifkan WC setelahnya
  2. Mempersiapkan tim untuk melalui DGW26, kemudian mengaktifkan WC di BGW29

Keuntungan utama dari strategi pertama adalah masih adanya WC setelah berlalunya BGW29. Penting untuk diketahui bahwa masih akan ada ‘mini’ blank dan double gameweek, bahkan setelah BGW29. Memiliki WC untuk melalui periode akhir FPL ini tentu akan sangat membantu manajer untuk tetap mengejar poin menuju selesainya musim 2020/21. Tanpa mengaktifkan chip sama sekali, maka ada beberapa tim yang sangat penting untuk dimiliki asetnya, yaitu Leeds United dan Fulham. Mengapa? Karena kedua tim ini memiliki peluang untuk mendapatkan double gameweek (Leeds United pasti bermain dua kali di DGW25 dan Fulham mungkin bermain dua kali di DGW26) serta dipastikan bermain di BGW29 (hingga saat ini). Aset-aset seperti Patrick Bamford, Raphinha, dan Stuart Dallas dari Leeds United, serta Ademola Lookman, Ivan Cavaleiro, dan Alphonse Areola, menjadi penting untuk dimasukkan ke dalam rencana transfer dari saat ini hingga gameweek sesuai jadwal masing-masing aset. Aset-aset ini merupakan aset murah, sehingga mungkin dicadangkan di DGW 26 bila ada pilihan aset premium lain yang ingin dimainkan, serta dapat dimainkan di BGW29. Tergantung dari hasil FA Cup ronde kelima yang hingga tulisan ini dipublikasikan belum tersedia, masih akan ada beberapa tim tambahan yang dapat dipastikan bermain di BGW29, di mana asetnya dapat dibeli di antara DGW26 dan BGW29.

Strategi pertama memiliki kelemahan, di mana dalam merencanakan DGW26 dan BGW29, transfer yang dilakukan perlu difokuskan ke dua gameweek tersebut, sehingga poin tim di gameweek lainnya (terutama GW27 dan GW28) menjadi tidak maksimal. Hal ini dapat disiasati dengan menggunakan strategi kedua, yaitu mempersiapkan tim sebaik mungkin untuk DGW26, kemudian bermain agresif di GW27 dan GW28 tanpa perlu mempedulikan BGW29. Saat tiba waktunya BGW29, WC dapat diaktifkan untuk mengambil aset yang bermain di BGW29. Aset-aset yang kita inginkan setelah BGW29 namun tidak bermain di BGW29 pun dapat dibeli terlebih dahulu untuk disimpan di bangku cadangan. Meskipun tidak dapat memainkan 11 pemain penuh di BGW29, namun strategi ini memiliki potensi poin lebih tinggi di GW27 dan GW28, serta dapat menyimpan aset yang memang kita inginkan setelah BGW29. Kehilangan WC tentu menjadi titik lemah utama strategi ini.

MANAJER CHIP (MENYERANG DI DGW26 DAN BGW29)

Bagi para manajer yang telah ‘bertahan’ di BGW18 dan DGW19, rentetan DGW dan BGW kali ini tentu lebih tepat untuk ‘menyerang’. Menurut pendapat saya pribadi, dengan mengkombinasikan chip wildcard (WC), Bench Boost (BB), serta Free Hit (FH), tentu sangat realistis untuk dapat memangkas poin dengan pesaing-pesaing di rank tier lebih tinggi setelah melalui periode ini. Terdapat dua strategi yang dapat saya rekomendasikan untuk para manager dengan chip tersisa WC, BB, dan FH, yaitu:

  1. Menggunakan WC di GW25, BB26, kemudian FH29
  2. Menggunakan FT untuk mempersiapkan BB26, FH29, kemudian WC setelahnya

Dengan menggunakan WC di GW25, terdapat beberapa kelebihan yang menurut saya sangat menguntungkan, yaitu: optimasi DGW24 dengan double up aset Burnley atau Everton, untuk kemudian ‘dibuang’. Mengapa dibuang? Opini saya, jadwal DGW24 Burnley dan Everton sangat baik (Burnley melawan Crystal Palace dan Fulham, sedangkan Everton melawan Fulham dan Manchester City), namun jadwal setelah GW24 kedua tim ini kurang menjanjikan. Walaupun mungkin kembali 2x bermain di DGW26, namun potensi DGW Burnley adalah melawan Tottenham Hotspurs dan Leicester, sedangkan Everton harus menjalani derby Merseyside di GW25. Selain dapat ‘membuang’ aset dari 2 tim ini, WC25 pun dapat digunakan untuk menabung pemain yang memiliki DGW di antara DGW26, yaitu aset Leeds United untuk DGW25, dan Southampton untuk DGW25 dan DGW27. Perbedaan strategi pertama dan kedua praktis hanya pada waktu penggunaan WC. Pengaktifan WC di GW25 membuat pergerakan kita lebih agresif di DGW24 hingga DGW28, namun kehilangan chip. Sebaliknya, penggunaan WC setelah BGW29 membuat kita berlari lebih ‘lambat’ di DGW 24 hingga DGW28, namun pengaktifan WC pasca BGW29 dapat mendorong rank kita naik lebih cepat di akhir musim.

KESIMPULAN

Periode padat DGW BGW ini menjadi tantangan tersendiri bagi para manajer di musim yang sulit ini. Terlepas dari hal tersebut, kesulitan ini justru bisa dilihat sebagai kesempatan, baik untuk mempertahankan ataupun meningkatkan overall rank. Perencanaan matang mengenai penggunaan chip, sekaligus rencana transfer setiap gameweeknya menjadi kunci bagi para manajer FPL yang ‘serius’ untuk dapat memanfaatkan periode ini seoptimum mungkin. Sukses bagi para manajer FPL Indonesia menuju akhir musim 2020/21nya!

Salam,
Steven Reinaldo Rusli
Anggota divisi scouting Komunitas FPL Indonesia (KoFPLI)
Penanggung jawab data FPL EstigaBola

Pelajaran dari Paruh Musim 2020/2021

Sudah setengah musim terlewati dengan penuh suka cita dan perjalanan bagai roller coaster turun naik peringkat di FPL musim ini. Banyak hal berbeda dari musim sebelumnya semenjak pandemi Covid-19 yang masih menghantui kehidupan manusia sampai saat ini. Tak terkecuali juga berpengaruh ke pertandingan Liga inggris musim ini. Jadi, coba kami rangkum beberapa tips untuk 19 Gameweek selanjutnya agar dapat membantu para manager FPL untuk mengarungi sisa musim ini :

1. Hindari Memasang Captain dan Vice Captain dalam 1 pertandingan yang sama

Musim ini banyak sekali pertandingan yang ditunda secara tiba – tiba akibat mayoritas pemain atau staf kepelatihan terpapar Covid-19 di dalam 1 klub. Contoh nya adalah laga Spurs vs Fulham yang di tunda secara tiba-tiba sebelum kick-off dimulai. Padahal sangat berpotensi sekali untuk Duo Spurs yaitu Son dan Kane meraih banyak point tetapi dengan kondisi pandemi seperti ini sangat disarankan agar tidak memasang captain dan vice captain pada 1 pertandingan yang sama karena akan berakibat fatal nantinya jika terjadi penundaan secara tiba-tiba.

2. Transfer Pemain As Late As Possible

Banyak hal yang disayangkan apabila kita terlalu cepat mengambil keputusan untuk transfer pemain di awal-awal gameweek di mulai salah satunya adalah kemungkinan pemain itu mengalami cidera. Tapi pada musim ini jadi lebih rumit karena ditambah juga penundaan pertandingan secara tiba-tiba yang dimana resiko pemain akan BLANK menjadi lebih banyak. Jadi kami belajar untuk menunda transfer selambat – lambatnya bahkan mungkin 2 jam sebelum deadline. Walaupun hal itu akan berpotensi membuat pemain yang sudah kita ‘incar’ harganya sudah naik daripada awal gameweek di mulai, maka lebih baik kehilangan ₤0,1 atau ₤0,2 daripada kehilangan point FPL secara signifikan.

3. Hindari Goalkeeper dalam 1 Tim yang sama

Sempat ramai dan masuk template pada FPL sebelumnya pemasangan pada posisi Goalkeeper di isi oleh 2 pemain dalam 1 tim yang sama contoh nya adalah Ryan dan Button di Brighton pada musim lalu. Maka untuk musim ini tidak dianjurkan memakai template tersebut akibat pandemi Covid-19.

4. Save Transfer atau Maksimalkan Cost Transfer

Penundaan pertandingan belum tentu berdampak negatif terus ke tim FPL kita. Positifnya adalah untuk tim yang mengalami BGW secara tiba-tiba maka akan muncul DGW juga di gameweek selanjutnya. Hal itu menjadi keuntungan yang dapat kita ambil jika kita memiliki pemain di tim tersebut setelah BGW berakhir. Jadi Save transfer menjadi strategi yang mumpuni di musim ini untuk mendapatkan pemain yang akan menjalani DGW selanjutnya. Apabila kita tidak memungkinkan untuk menabung jatah transfer di gameweek sebelumnya maka lebih baik dimaksimalkan cost transfer untuk membeli pemain-pemain yang akan berlaga di DGW mendatang.

Semoga pandemi Covid-19 segera cepat berakhir.
Salam Panah Hijau.

FPL CUP 2020/2021

Tidak lama lagi, perhelatan FPL Cup akan segera dimulai. Kualifikasi FPL Cup saat ini sedang berlangsung, 4,194,304 poin tertinggi di Gameweek 16 akan lolos kualifikasi ke ronde pertama FPL Cup. Jika ada lebih dari 4,194,304 manajer yang terkualifikasi, maka pemilik poin terendah akan dipilih secara acak untuk bertanding di ronde pertama.

FPL Cup akan berlangsung mulai dari GW17 sampai dengan GW 38. Setiap ronde, para manajer yang lolos kualifikasi, secara acak akan diadu Head-to Head dengan sistem gugur. Siapapun yang menang akan lanjut ke ronde berikutnya, sebaliknya yang kalah langsung tereliminasi dari ajang FPL Cup. Jika poin nya sama (imbang) maka pemenang akan dipilih dengan cara membandingkan:

  1. Most goals scored in the Gameweek
  2. Fewest goals conceded in the Gameweek
  3. Virtual coin toss

Juara FPL Cup musim ini akan mendapatkan beberapa hadiah dari FPL Official berupa:

  • VIP hospitality at one 2021/22 Premier League match
  • Includes travel and 2 nights’ accommodation
  • Copy of FIFA 21 and a games console
  • Tablet computer
  • Bluetooth speaker
  • Nike manager jacket
  • FPL goody bag consisting of a rucksack, t-shirt, mug, water bottle, stress ball, pen, pad and key ring

Fantasy Football Scout pernah mewawancarai pemenang FPL Cup 2017/2018, Nick Smith (https://www.fantasyfootballscout.co.uk/2018/05/20/interview-how-the-fpl-cup-was-won/). Artikel ini menarik untuk dibaca jika teman-teman manajer ingin memutuskan untuk fokus pada kompetisi FPL Cup. Ada beberapa strategi yang berbeda, seperti menahan semua chip untuk babak krusial di pekan-pekan terakhir, memaksimalkan DGW, dll.

MEMPERSIAPKAN STRATEGI MENGHADAPI JADWAL PADAT FPL BULAN DESEMBER

PENDAHULUAN

Bulan Desember seringkali menjadi bulan tersibuk bagi tim Premier League. Saat liga-liga lain (biasanya) mengalami jeda liburan Natal dan akhir tahun, liga Inggris justru berjalan semakin cepat dengan jadwal yang semakin padat. Hal ini disebabkan oleh adanya 2 turnamen lain di Inggris selain Premier League, yaitu FA Cup dan EFL Cup (Carabao / Carling Cup). Khusus musim 2020/21 ini, dengan situasi pandemi yang tidak menentu, terdapat juga penyesuaian jadwal di Liga Inggris. Mulai dari gameweek ke-12 FPL, tidak ada pertandingan FA Cup hingga tahun baru. Tidak ada juga pertandingan level Eropa (UCL / UEL), namun jadwal Liga Inggris tetap menjadi padat. Sejak tulisan ini terpublikasikan hingga akhir tahun, tercatat para manajer FPL akan 5x berhadapan dengan deadline gameweek FPL, belum menghitung deadline berikutnya yang jatuh pada tanggal 2 Januari. Bagaimanakah pembagian jadwal tersebut? Siapa saja tim yang memiliki jadwal istirahat paling pendek dan rentan rotasi? Apakah ada tim yang jadwalnya cukup longgar? Semua akan dibahas di artikel ini.

@LEGOMANE

Salah satu akun twitter yang sering mengunggah jadwal, @Legomane menyediakan grafik seperti dapat dilihat di Gambar 1 berikut. Grafik tersebut tidak hanya memasukkan jadwal liga Inggris (PL) yang poinnya terhitung secara langsung di FPL, tetapi juga jadwal lain yaitu liga Eropa (UCL/UEL) dan Carabao cup. Pertandingan kandang dituliskan dengan huruf kapital, sedangkan pertandingan tandang dituliskan dengan huruf non-kapital. Batang berwarna gradasi merah – hijau menunjukkan jeda istirahat yang dimiliki setiap tim antar pertandingan.

Gambar 1. Jadwal setiap tim PL di bulan Desember

TIM ‘SIBUK’

Ada 7 tim dengan jadwal paling sibuk di bulan Desember, yaitu Arsenal, Tottenham, Manchester United, Manchester City, Leicester, Chelsea, dan Liverpool. Tidak aneh, karena ke-7 tim tersebut terlibat dalam laga Eropa. Empat tim yang disebut pertama bahkan juga memiliki jadwal di perempatfinal Carabao Cup di tengah minggu antara gameweek 14 dan gameweek 15 FPL.

Arsenal adalah tim dengan jadwal terpadat, karena sejak Kamis, 10 Desember, hingga Selasa, 22 Desember (13 hari), Arsenal harus memainkan 5 laga, termasuk tandang liga Eropa ke Irlandia, kandang melawan Burnley, Southampton, tandang ke Everton, dan kembali kandang melawan Manchester City (Carabao Cup). Lebih lagi, selang 3 hari kemudian, Arsenal akan menghadapai lagi tim big-6 lainnya, Chelsea. Bagi pemilik aset Arsenal (yang kurang populer), bersiaplah dengan banyaknya rotasi yang mungkin diterapkan Arteta. Selain Arsenal, Spurs memiliki jadwal yang mirip padatnya, hanya selang 1 hari lebih dalam jeda istirahat antara gameweek 13 dan gameweek 14. Spurs juga memiliki jadwal tandang ke daratan Eropa (Antwerp – Belgia), sehingga tenaganya akan cukup terkuras.

Dengan banyaknya jadwal padat DAN penting bagi Manchester United (matchday 6 menentukan di UCL, kemudian derby Manchester, tandang ke Sheffield dan kandang melawan Leeds sebelum menjalankan laga perempatfinal Carabao Cup ke kandang Everton – semua terjadwal sebelum hari Natal), sangat mungkin Ole Gunnar Solskjaer menerapkan rotasi bagi pemain pentingnya di laga yang tergolong ‘mudah’, contohnya Sheffield United. Di sisi lain kota Manchester, jadwal terpadat terletak antara gameweek 15 (melawan Newcastle pada tanggal 26 Desember) dan gameweek 16 (melawan Everton pada tanggal 28 Desember). Jeda 1 hari antar gameweek itu pun dialami oleh Chelsea. Liverpool, meskipun memiliki jeda istirahat antara gameweek 14 hingga gameweek 15 yang cukup panjang, harus terbang cukup jauh ke markas FC Midtjylland, Denmark sebelum gameweek 12.

TIM ‘SANTAI’

Selain tim-tim di atas yang padat jadwalnya, terdapat beberapa tim yang justru sebaliknya, memiliki jadwal bulan Desember yang tergolong biasa saja. Tim-tim ini memiliki resiko rotasi lebih minim, sehingga sangat cocok untuk diinvestasikan. Tentu saja, tim-tim ini bukan tim besar, tetapi tim yang tidak berlaga di Eropa, dan sudah tersingkir di Carabao cup.

Tim-tim tersebut adalah West Ham, Leeds, Wolves, dan West Brom. Aston Villa bisa dimasukkan ke dalam kategori ini, namun penundaan partai gameweek 11 melawan Newcastle membuat jadwal mereka menjadi semakin padat. Praktis, dari ke-empat tim yang disebut sebagai tim ‘santai’, hanya jadwal antara gameweek 15 dan gameweek 16 saja yang menuntut adanya rotasi, sedangkan pertandingan lainnya memiliki jeda yang cukup untuk menurunkan tim inti.

STRATEGI FPL MENGHADAPI JADWAL PADAT

Dengan banyaknya pemain premium yang sedang dalam performa menjanjikan (Salah, de Bruyne, Fernandes), tentu sangat besar keinginan kita untuk ‘memiliki semua’, namun hal ini berpengaruh terhadap budget tim dan kualitas bench masing-masing tim. Dengan jadwal padat tim-tim besar, saya memperkirakan setidaknya setiap pemain tersebut akan diistirahatkan 1x sepanjang bulan Desember. Apalagi, perlu diingat, transfer terakhir tim-tim tersebut memberikan keleluasaan bagi managernya untuk mencadangkan pemain kunci mereka. Ole sudah mencoba menurunkan van de Beek sejak menit awal menggantikan Bruno Fernandes di gameweek 11, sedangkan Klopp sudah merotasi Mane dan Salah dengan Jota sejak akhir bulan November. Belum lagi rotasi Pep yang seringkali sulit ditebak.

Belum lagi adanya kemungkinan blank dan double gameweek yang semakin dekat, perencanaan para manajer FPL di bulan Desember perlu semakin panjang, memiliki alternatif, dan terstruktur setiap gameweeknya. Pengambilan keputusan yang cepat namun tidak gegabah menjadi kunci penting melewati bulan ini. Saran utama saya untuk periode ini adalah memiliki bench yang setidaknya mendapatkan menit bermain secara rutin. Sudah saatnya mengganti pemain seperti Dunne, Mitchell, Struijk di barisan pertahanan. Di barisan depan, praktis hanya Brewster dan Welbeck yang memiliki peluang menit bermain cukup baik. Pilihan terbanyak ada di barisan tengah (Soucek, Saka, Moutinho, dan lain-lain), namun justru posisi ini yang slotnya kebanyakan sudah ‘penuh’. Selamat mengarungi bulan Desember, berlibur, dan juga mendapatkan panah hijau. Sampai bertemu di artikel berikutnya di tahun 2021! Salam dari saya, segenap pengurus KoFPLI, dan seluruh admin estigabola.

Membaca Karakter Manager Tim EPL

Halo para manajer FPL Indonesia, sebelumnya perkenalkan saya Bayu manager dari Alpukat FC yang akan menulis Kofpli tips di divisi Scout Kofpli.

Banyak manager yang menggunakan stastistik, eye test atau pun komunitas dalam pemilihan pemain dan strategi dalam membentuk tim. Namun kali ini saya akan coba berbagi pengalaman dari sudut pandang yang berbeda dan strategi ini cukup ampuh saya terapkan di musim lalu yaitu “Membaca karakter manager tim” yang mempengaruhi pemilihan pemain kita. Ini mungkin tidak didapatkan dari web, sumber dll hanya berdasarkan opini, analisa  dan pengalaman saya pribadi.

1. Arsenal

Manager : Mikel Arteta

  • Tidak terlalu terbuka kemedia mengenai strategi tim, namun agak terbuka terhadap kebugaran pemain jadi masih bisa ditunggu press conferencenya.
  • Sering melakukan rotasi di Forward namun di Defender jarang rotasi.
  • Menggunakan formasi 3-4-3 dan 4-2-3-1 bermain aman  untuk menggunakan ruang minim possesion
  • Sulit bounce back saat  untuk memotivasi , namun jika mendapat trend baik 2-3 match bisa dipantau
  • Di video training youtube tidak terlalu banyak clue, hanya dapat dipantau pemain yg fit

2. Aston Villa

Manager : Dean Smith

  • Terbuka akan kebugaran pemain namun dalam strategi kurang terbuka di press conference
  • Jarang melakukan rotasi dan perubahan strategi
  • Bermain berani walaupun terhitung tim kecil dengan mid defensive line 4-2-3-1 dengan duo inverted winger yang bebas.
  • Di video training tidak banyak hal yang dapat dipantau

3. Brighton Albion

Manager : Graham Potter

  • Tidak terlalu terbuka akan kebugaran tim, dan tidak terlalu terbuka dengan strategi tim di press conference jadi tidak terlalu worth menunggu
  • Bermain full attack atau full defence 3-5-2 dengan rotasi besar besaran, namun hanya beberapa pemain yang tak tergantikan
  • Sering merubah strategi di starting, namun saat in game jarang merubah strategi
  • Di video training tidak banyak hal yang dapat dipantau

4. Burnley

Manager : Sean Dyche

  • Terbuka akan kebugaran tim dan terbuka akan strategi tim , patut dipantau press conferencenya
  • Jarang melakukan rotasi pemain, kecuali Winger dan fullbacknya
  • Menggunakan formasi 4-4-2 classic dengan 2 forward target man dan poacher
  • Defensive minded, kurang menjual asset attacking
  • Di video training tidak banyak hal yang dapat dipantau

5. Chelsea

Manager : Frank Lampard

  • Kurang terbuka akan kebugaran tim dan strategi tim
  • Jarang melakukan rotasi jika sudah menemukan winning team 4-2-3-1, kecuali trend memburuk maka akan berubah drastis strategi dan pemilihan pemain
  • Attacking minded namun akan bermain defensive ketika berhadapan tim besar
  • Di video training youtube banyak yang dapat dipantau seperti kebugaran pemain dan pemilihan starting line up kedepan, biasanya di Chelsea akan ada sesi 11 vs 11 dan pemain yang bermain dengan banyak skuad inti kemungkinan besar akan start

6. Crystal Palace

Manager : Roy Hodgson

  • Terbuka akan kondisi tim namun tertutup akan strategi tim
  • Jarang melakukan rotasi kecuali pemain Midfielder
  • Pragmatis football 4-4-2
  • Saat bermain dengan tim besar akan bertahan namun jika melawan tim setara akan terbuka
  • Di video youtube tidak dapat banyak info didapat

7. Everton

Manager : Carlo Ancelotti

  • Sangat terbuka akan kebugaran tim dan strategi tim sangat patut dinantikan press conferencenya, idaman FPL manager
  • Jarang melakukan rotasi, namun posisi Center back akan sering dirotasi formasi 4-3-3 dengan sistem target man
  • Attacking minded, wingback akan sering naik membantu serangan efek buruknya lebih sulit Cleansheet
  • Di video training youtube banyak yang dapat di pantau selain pemain fit, pemilihan starting line up biasanya dapat di pantau di sesi 5 vs 5

8. Fulham

Manager : Scott Parker

  • Terbuka akan kebugaran pemain namun tertutup terhadap strategi tim
  • Sering melakukan rotasi, tidak ada pemain yang pasti starting walaupun fit semua tergantung lawan.
  • Full attack, karena mengetahui timnya tidak dapat bertahan.
  • Di video training youtube tidak ada yang dapat dipantau

9.  Leeds United

Manager : Marcelo Bielsa

  • Sangat terbuka akan kebugaran tim dan strategi tim wajib dipantau press conferencenya, idaman manager FPL
  • Jarang melakukan rotasi, fleksibel dan bermain lebih
  • Counter attacking 4-3-3 dengan midfielder yang ikut memenuhi kotak pinalti
  • Di video training youtube tidak ada yang dapat dipantau

10. Leicester

Manager : Brendan Rodgers

  • Kurang terbuka akan kebugaran tim namun terbuka akan strategi tim.
  • Sering melakukan startegi terutama di midfielder
  • Counter attacking 4-3-3 dan akan merubah ke 4-4-2 ketika keadaan buntu
  • Di video training dapat memantau pemain yang fit karena biasanya pemain yang kurang fit atau istirahat akan terlihat di video di pinggir latihan sesi berbeda

11. Liverpool

Manager : Jurgen Klopp

  • Terbuka akan kebugaran tim , sedikit terbuka akan strategi tim, worth untuk dipantau press conferencenya
  • Jarang melakukan rotasi kecuali central midfieldernya
  • Possesion dan pressing 4-3-3 namun midfiednya tidak banyak ikut ke kotak pinalti untuk menjaga kepadatan ditengah karena sumber serangan berasal dari flank kanan kiri
  • Di video training dapat dilihat pemain yang fit

12. Manchester City

Manager : Pep Guardiola

  • Tertutup akan strategi dan kondisi pemain, musuh manager fpl
  • Sering melakukan rotasi di semua lini
  • Possesion football 4-1-2-3 dengan sebanyak mungkin menguasai bola dengan simple pass sehingga menempatkan banyak pemain yang ikut menyerang
  • Di video training dapat dilihat pemain yang fit, dan pemain yang telah bermain biasanya akan diberi rest sehingga tidak latihan dan pemain yang akan dipilih starting biasanya berlatih dengan menggunakan rompi kecil berwarna hitam

13. Manchester United

Manager : Ole Solskjaer

  • Kurang terbuka akan kebugaran pemain dan strategi tim
  • Sering melakukan rotasi hingga menemukan winning teamnya
  • Possesion football 4-2-3-1 atau bermain lebih sabar dengan 4-4-2 namun tergantung kepada kreatifitas beberapa pemain
  • Di video youtube tidak dapat dipantau pemain yang fit, namun lebih bisa melihat dari majalah MEN untuk tim yang berangkat dengan Skuad

14. Newcastle

Manager : Steve Bruce

  • Terbuka akan kebugaran tim namun kurang terbuka akan strategi tim
  • Jarang melakukan rotasi, kecuali Posisi defender
  • Bermain deep defensive line 4-4-2 namun sangat mengandalkan set piece.
  • Di video youtube tidak dapat banyak info

15. Sheffiled United

Manager : Chris Wilder

  • Tertutup akan kondisi pemain, namun terbuka akan strategi tim, masih worth press conferencenya
  • Jarang melakukan rotasi kecuali Forwardnya
  • Bermain Deep defensive line 3-5-2 namun dengan wing back yang sering maju untuk melakukan crossing
  • Di video youtube hanya dapat dipantau pemain yang fit berlatih saja

16. Southampton

Manager : Ralph Hasenhuttl

  • Terbuka akan kondisi tim namun tertutup akan strategi tim
  • Jarang melakukan rotasi kecuali central midfieldernya
  • Bermain high defensive line 4-4-2
  • Pressing high, mudah di counter namun jika sudah unggul terlebih dahulu bisa mendapatkan attacking point yang besar
  • Di video youtube tidak dapat info

17. Tottenham Hotspur

Manager : Jose Mourinho

  • Tertutup akan kondisi tim namun sedikit terbuka akan strategi tim
  • Jarang melakukan rotasi kecuali satu spot di sayap kanan tergantung musuh
  • 4-3-3 mid defensive line
  • Counter attack minded mengandalkan kecepatan pemain untuk eksploitasi
  • Di video youtube tidak banyak dapat mendapatkan info kecuali pemain yang fit

18. West Bromwich

Manager : Slaven Bilic

  • Terbuka akan kondisi tim namun tertutup akan strategi tim
  • Sering melakukan rotasi pada starting line up
  • Jika bermain dengan tim setara makan 4-1-4-1 namun ketika melawan tim besar akan bermain 5-3-2
  • Bermain terbuka saat melawan tim yang setara, dan bermain tertutup ketika melawan tim besar
  • Di video youtube tidak banyak yang didapat infonya

19. West ham

Manager : David Moyes

  • Terbuka akan kondisi tim namun tertutup akan strategi tim
  • Jarang melakukan rotasi
  • 4-2-1-3 bermain dengan target man dan dua inverted winger
  • Mengandalkan crossing dan set piece
  • Di video training youtube tidak banyak yang didapat

20. Wolves

Manager : Nuno Espirito

  • Terbuka akan kondisi tim namun tertutup akan strategi tim
  • Sering melakukan rotasi kecuali beberapa spot seperti CF dan CB
  • 4-3-3 mengandalkan crossing namun bermain sabar dan mengandalkan individual skill dan speed pemain sayap
  • Bermain tempo lambat dengan mengandalkan crossing
  • Di video training tidak dapat banyak info kecuali pemain fit

Itu merupakan rangkuman yang dapat saya bagikan sebetulnya masih banyak lagi analisa yang saya lakukan selain diatas namun sebagian besar sudah saya tuliskan diatas. Oke, pesan dari tips kali ini adalah berpikirlah dan carilah sumber pengamatan diluar kebiasaan orang orang agar mendapatkan hasil di akhir musim yang luar biasa.

Terimakasih,

Bayu Ajie Oktavianto
ALPUKAT FC

Memperkenalkan Tools Fixture Ticker dan Score Prediction Matrix

Sebagian dari pembaca mungkin sudah tentang tools terbaru KOFPLI yaitu Fixture Ticker dan Score Prediction Matrix yang memberikan proyeksi gol dan kebobolan setiap tim di liga inggris, mulai dari GW depan hingga akhir musim.

Disini saya akan mencoba menjelaskan darimana sih angka-angka ini berasal? Data dan proses kalkulasi apa yang digunakan untuk mendapatkan proyeksi-proyeksi ini.

Prediksi Skor: di belakang layar

Data prediksi skor di Fixture Ticker dan Score Prediction Matrix berasal dari model Soccer Power Index (SPI) yang di publikasi oleh FiveThirtyEight.com. SPI dibuat oleh editor-in-chief FiveThirtyEight Nate Silver pada tahun 2009 untuk membuat ranking antar tim nasional untuk dipublikasi oleh ESPN.

Kini SPI sudah mengintegrasikan data klub sepakbola dari berbagai liga dan data hasil pertandingan mulai dari tahun 1888 (dengan total lebih dari 550,000 pertandingan).

Apa itu SPI?

Pada dasarnya Soccer Power Index (SPI) adalah estimasi kekuatan tim secara keseluruhan. Dalam sistem SPI, setiap tim memiliki rating offensive dan defensive.

Rating offensive merepresentasikan berapa banyak gol yang bisa dicetak tim tersebut jika melawan tim rata-rata di lapangan netral. Sedangkan rating defensive merepresentasikan berapa banyak tim tersebut bisa kebobolan gol melawan melawan tim rata-rata di lapangan netral.

Dari kedua rating ini, didapatkan rating overall dari sebuah tim.

Di awal musim, rating SPI sebuah tim diukur berdasarkan 2 faktor: rating SPI tim tersebut di akhir musim sebelumnya, dan total harga pemain dalam tim menurut TransferMarkt. Hal ini dikarenakan adanya korelasi positif antara total harga pemain dengan performa tim di akhir musim (semakin mahal tim di awal musim, performa tim di akhir musim cenderung semakin bagus).

Kalkulasi rating SPI sebuah tim di awal musim/preseason

Lalu selama musim berjalan, rating SPI setiap tim akan berubah setiap selesai bertanding. Berbeda dengan rating ELO (seperti pada catur), rating SPI sebuah tim belum tentu naik jika menang; jika tim tersebut menang tapi performa di lapangan nya dibawah ekspektasi, rating SPI nya bisa turun.

Performa di Lapangan?

Apa yang dimaksud dengan performa di lapangan? Seperti yang kita semua tahu, gol adalah suatu kejadian yang langka dalam pertandingan sepak bola. Dan ada kalanya skor akhir tidak merepresentasikan performa kedua tim di lapangan.

Untuk bisa melihat performa sesungguhnya dari sebuah tim dalam sebuah pertandingan, dan mengurangi efek randomness, FiveThirtyEight menggunakan 3 metrik untuk mengukur performa tim setelah pertandingan untuk melakukan revisi ke rating SPI nya:

Metrik 1: Adjusted Goals

Sesuai dengan namanya, disini skor sebuah pertandingan akan diberikan bobot sesuai dengan keadaan di lapangan

  • Jika gol tersebut terjadi ketika lawan hanya memiliki 10 pemain atau kurang, maka gol tersebut akan diberikan bobot lebih kecil, yaitu 0.8
  • Jika gol terjadi di menit akhir (terutama diatas menit 70) dan tim yang menetak gol memang sudah memimpin pertandingan sebelumnya. Co: Gol ke 5 dari kemenangan 5-0 memiliki bobot lebih rendah (sekitar 0.5) dibandingkan gol pertama.
  • Sebaliknya gol pertama di awal pertandingan bisa memiliki bobot lebih besar dari 1

Metrik 2: Shot-Based Expected Goals

Disini performa sebuah tim diukur dari Shot-Based Expected Goals. Shot-Based Expected Goals adalah estimasi berapa banyak gol yang “seharusnya” bisa dicetak tim tersebut berdasarkan tendangan yang dilakukan. Setiap tendangan yang dilakukan diberikan nilai probabilitas berdasarkan posisi tendangan, sudut tendangan, bagian badan yang digunakan dan siapa yang melakukan tendangan tersebut. Inilah yang disebut dengan xG

Metrik 3: Non-Shot Expected Goals

Untuk metrik terakhir, Non-Shot Expected goals adalah estimasi berapa banyak gol yang “seharusnya” bisa dicetak tim tersebut berdasarkan aksi selain tendangan selama pertandingan di wilayah sekitar gawang lawan.

Aksi yang disorot disini adalah:

  • Passing
  • Interception
  • Take-ons
  • Tackles

di sekitar kotak penalti lawan.

Sebagai contoh, berdasarkan data ribuan pertandingan sebelumnya interception di daerah penalti lawan berujung menjadi gol di 9% (0.09) kejadian, dan passing yang berhasil diterima di dalam kotak penalti dalam 14% (0.14) kejadian berujung kepada Gol.

Nilai % dari aksi-aksi ini akan di total di akhir pertandingan menjadi Non-shot expected goals


Nah dari ketiga metrik ini FiveThirtyEight bisa mendapatkan gambaran performa kedua tim yang lebih akurat dibandingkan jika hanya melihat dari skor akhir saja.

Hasil pertandingan Everton vs City pada Januari 2017

Coba kita ambil contoh pertandingan antara Everton dan Manchester City pada Januari 2017. Di atas kertas, Everton berhasil mengalahkan City 4-0, namun jika kita lihat dari tiga metrik diatas, performa kedua tim tidak sepenuhnya sesuai dengan skor akhir. Dua gol Everton dicetak setelah menit 70, dimana Everton sudah unggul 2-0. Everton pun hanya berhasil melakukan 6 tendangan, dari sisi Shot-based xG Everton seharusnya hanya akan berhasil mencetak 0.4 gol secara rata-rata (jika pertandingan diulang lagi dengan keadaan yang sama). City juga dinilai memiliki performa jauh lebih baik dari aksi-aksi non-tendangan jika dilihat dari Non-shot xG.

Dari ketiga metrik ini, FiveThirtyEight mengukur skor “sebenarnya” dari pertandingan ini adalah 1.53-1.13. Everton tetap menang, tapi jauh lebih tipis dibandingkan skor 4-0 di atas kertas.

Skor “sebenarnya” ini lah yang digunakan untuk merevisi rating SPI Everton dan City setelah pertandingan ini.

Dari Rating SPI menjadi proyeksi gol

Oke jadi sekarang kita sudah tahu darimana FiveThirtyEight mengukur kekuatan setiap tim. Selanjutnya bagaimana rating ini bisa digunakan untuk mengukur proyeksi gol dari dua tim yang akan bertanding melawan satu sama lain?

Jadi proyeksi jumlah gol yang dicetak sebenarnya merepresentasikan berapa jumlah gol minimal yang perlu dicetak tim tersebut agar rating offensive nya tidak berubah. Kemudian jumlah gol ini disesuaikan lagi dengan home-advantage dan importance dari pertandingan tersebut untuk kedua tim.

Importance yang dimaksud disini adalah ukuran bagaimana hasil pertandingan tersebut akan mempengaruhi posisi kedua tim di akhir musim di kompetisi tersebut, dalam kasus FPL artinya seberapa penting pertandingan tersebut terhadap posisi klasemen tim di akhir musim. Untuk beberapa tim, sebuah pertandingan mungkin akan menentukan apakah tim tersebut akan direlegasi atau selamat, atau menentukan apakah tim tersebut akan mendapatkan spot Liga Champions.

Dari proses inilah didapatkan proyeksi skor dibawah:

Proyeksi Gol setiap tim
Proyeksi Kebobolan setiap tim

Matrix Skor

Dari proyeksi skor ini, kita juga bisa mendapatkan probabilitas skor dari suatu pertandingan antar kedua tim dalam bentuk matriks seperti yang bisa dilihat di KOFPLI Tools Score Prediction Matrix

Score Prediction Matrix

Untuk mendapatkan matriks ini, kita mengasumsikan bahwa gol dalam sebuah pertandingan sepakbola mengikuti model distribusi Poisson.

Misal dalam pertandingan NEW vs CHE mendatang, NEW diproyeksi mencetak 0.91 gol dan CHE diproyeksi mencetak 1.97 gol. Dengan rumus model Poisson, kita bisa mendapatkan probabilitas masing-masing tim mencetak n-gol (0,1,2,3,4,5+)

Dari kedua distribusi Poisson ini, kita bisa mendapatkan matrix untuk semua kemungkinan hasil pertandingan seperti berikut:

Rotasi Tim

Dengan menggunakan proyeksi gol dan kebobolan dari FiveThirtyEight, KOFPLI mengambil inspirasi dari FPL Poker Table karya BarColeyna untuk memvisualisasi tim mana yang perlu dipertimbangkan pemainnya untuk ada di tim FPL anda berdasarkan proyeksi gol untuk penyerang dan proyeksi kebobolan untuk pemain bertahan.

Bek Rasa Striker

Pada awal musim ini, liga inggris diterpa oleh fenomena hujan gol pada mayoritas laga yang dijalani. Hal itu mengakibatkan para goalkeeper dan defender kehilangan point penting yaitu point cleansheet yang dimana seharusnya menjadi andalan pada posisi tersebut. Tercatat hanya terjadi cleansheet sebanyak 22 kali dari 50 laga yang sudah terjadi dengan rata-rata cleansheet hanya 4 sampai 5 tim per gameweek.

Hal tersebut membuat para manager FPL putar otak agar posisi defender mendapatkan point lebih dari hanya sekedar mengandalkan point bermain saja. Attacking point goal atau assist menjadi salah satu potensi terbesar untuk menghasilkan point pada posisi defender, ada beberapa pilihan defender yang dapat dijadikan opsi untuk masuk ke dalam tim FPL yaitu sebagai berikut :

  • Castagne (LEI)

Pada awal musim liga inggris, Leicester City tampil beringas sehingga menciptakan banyak gol di setiap pertandingannya. Castagne mencuri perhatian dengan permainan apik nya yang mampu menghasilkan 3 assist dan 1 goal sejauh ini.

  • Robertson (LIV)

Kalah pamor dengan rekan satu tim nya Trent Alexander-Arnold membuat Robertson tidak di unggulkan pada awal musim FPL kali ini, tetapi seiringnya waktu dia lah yang mampu menjawab konsistensi untuk mengahasilkan assist dan goal dibandingkan rekan satu tim nya tersebut. Tidak diragukan lagi overlap nya ke lini pertahanan lawan dan juga sebagai set piece taker corner kick akan mampu menghadirkan lebih banyak poin assist dan goal.

  • Chilwell (CHE)

Baru menjalani 2 pertandingan pada musim ini, Chilwell mampu mencuri perhatian dengan perolehan 1 goal dan 2 assistnya. Statistik menunjukan Chilwell awal musim ini sudah melepaskan 4 umpan penentu per pertandingan dan juga melakukan sentuhan sebesar 33% di daerah pertahanan lawan pada setiap pertandingan yang dijalani.

  • Digne (EVE)

Dibawah arahan Ancelotti, Everton berubah menjadi tim yang sangat mengerikan di musim ini. Apalagi lini serang everton sangat produktif di awal musim ini, Lucas Digne pun berperan penting karena sering melepaskan umpan penentu yang berbuah gol, sampai saat ini Digne sudah mengemas 3 assist ditambah digne juga di plot sebagai set piece taker sehingga berpotensi untuk membuahkan gol dari bola mati.

  • Bellerin (ARS)

Formasi 3-5-2 besutan Mikel Arteta membuat Bellerin menjadi OOP ke midfielder sehingga bellerin bertugas lebih banyak menggedor lini pertahanan lawan. Apalagi mulai kembalinya performa terbaiknya bisa menjadi pilihan tepat untuk berada di tim FPL. Tercatat sudah 2 assist yang sudah ditorehkan.

  • Lamptey (BHA)

Tariq Lamptey menjadi properti panas pada musim ini dikarenakan harga nya yang murah dengan kualitas bintang lima. Tak perlu diragukan lagi dari heat map nya Lamptey sangat sering berada di lini pertahanan lawan. Terbukti dengan torehan 3 assist yang sudah dikemas saat ini membuat para manager FPL tergiur dengan potensi attacking point nya.

Bisa jadi defender lah yang memberikan pengaruh point lebih pada tim FPL dan juga apabila tim nya nirbobol maka cleansheet menjadi bonus point yang begitu segar jika ditambahkan oleh attacking point para defender tersebut.

“The best form of defense is attack” – Carl van Clausewitz

MEMPREDIKSI POIN FPL DI MUSIM YANG TIDAK TERPREDIKSI

Di akun twitter utama saya (@fpl_steven), seringkali saya mencuit mengenai pemain yang ‘feeling’ saya akan ‘meledak’ di pekan berikutnya sebelum deadline FPL terlewat. Terkadang nama yang saya tulis di sana cukup kontroversial, misalnya di pekan keempat, ada nama Antonio dan Watkins, yang jadwalnya cukup berat, bertanding melawan Leicester dan Liverpool. Mengejutkan, ternyata 70% nama di utas tersebut sejak pekan kedua telah menghasilkan poin bagi para pemiliknya, sehingga cukup banyak komentar mengenai ‘memang FPL sebaiknya dimainkan pakai feeling saja’, ‘jangan percaya statistik’, dll.

Tentu saya setuju jika bermain FPL itu perlu ‘feeling‘, bahkan sangat perlu. Tapi untuk mengklaim bahwa ‘pakai feeling saja’, tentu aneh. Banyak perangkat lain yang bisa digunakan, lantas mengapa hanya mengandalkan 1 saja, yaitu ‘feeling‘? Mari kombinasikan sebanyak-banyaknya fasilitas yang kita punya. Nama-nama di utas saya ternyata sebenarnya bukan hanya berdasarkan feeling, tapi juga diturunkan menggunakan perangkat yang dibahas pada artikel ini, yaitu Goals Imminent Table (GIT). Hal ini tidak saya jelaskan di utas saya karena terlalu panjang nantinya, jadi saya sebut saja itu berdasarkan ‘feeling‘. Bagi yang terbiasa dan senang dengan Bahasa Inggris, versi asli dari artikel ini sudah dipublikasikan di tautan berikut dan bisa dibaca dari laman resmi fantasyfootballscout.

PENDAHULUAN

Empat pekan pertama FPL sungguh terasa seperti permainan ‘roller coaster‘ bagi para manajer FPL yang ‘serius’. Adanya informasi di berbagai sosial media justru menjadi pedang bermata dua, merusak rencana transfer dan poin FPL keseluruhan. Cerita terbaru contohnya adalah cedera ‘bohong’nya Son Heung-Min, di mana dia mencetak 18 poin saat statusnya di FPL ditandai cedera dengan kemungkinan bermain hanya 25%. Pemain FPL yang ‘tidak serius’ banyak yang ‘lupa’ mentransfer Son, tapi justru mereka lah yang akhirnya naik posisinya dalam klasemen FPL. Di sisi lain, manajer kompetitif yang memikirkan banyak hal justru menyesal. Di musim seperti ini saat skor akhir pertandingan menjadi semakin tidak terprediksi, apakah kita memiliki perangkat untuk memperkirakan keganjilan-keganjilan yang akan terjadi?

Data statistik telah banyak ‘menipu’ di awal musim ini. Pencarian data ‘underlying stats‘ seringkali gagal berbuah manis. Contoh yang menimpa saya pribadi adalah Kevin de Bruyne. Tanpa adanya persiapan pre-season yang matang plus blank gameweek 1, saya tidak berani mengambil resiko memasukkan deBruyne di pekan 2, apalagi dengan kondisi popularitas Salah dan Aubameyang saat itu. Nyatanya, menghadapi Wolves di gameweek 2, deBruyne merajalela. Perlu diingat bahwa dari pekan ke-25 musim lalu hingga pekan pertama musim ini, Wolves adalah tim dengan statistik pertahanan terbaik di Liga Inggris. Wolves terkena percobaan tembakan (shots conceded), tembakan dalam kotak penalti (shots in the box conceded), peluang berbahaya (big chances conceded), dan xGC (expected goals conceded) paling sedikit dari seluruh tim lain, termasuk dari sang juara bertahan Liverpool. Pada pertandingan MCI vs WOL di pekan kedua, de Bruyne seorang diri menciptakan 6 peluang (chances created), lebih dari setengah total peluang yang diciptakan seluruh pemain Wolves saat itu. Tambahkan kreativitas tersebut dengan percobaan tembakan terbanyak di pertandingan tersebut (4 shots), 1 gol, 1 assist, dan 3 bonus poin FPL, tentu saja de Bruyne terlihat ‘essential‘ sebagai aset FPL. Saya pun beli dia, mengorbankan Aubameyang, dan selalu memilih dia sebagai kapten. Setelah itu, deBruyne menghadapi Leicester City yang di pekan kedua baru kebobolan 2x oleh Burnley, dan Leeds United di pekan keempat yang dalam 2 pekan pertama saja sudah kebobolan 7 gol (terlihat sangat meyakinkan, bukan?). Apa yang terjadi? Dua pertandingan nihil kontribusi. Tidak ada gol, assist, bahkan poin cleansheet pun tidak. Ada lebih banyak lagi mengenai cerita naas seperti ini, tapi bukan itu poin utama yang kita perlu telaah lebih jauh di artikel ini.

Sangat sulit untuk membeli pemain di saat yang tepat, sebelum dia ‘banjir’ poin, bukan setelahnya. Terutama di musim seperti ini, membeli pemain ‘setelah’ dia menghasilkan banyak poin, membuat kita merasa ‘terlambat’. Kadang rasanya seperti mengejar sesuatu yang sudah berlalu, meskipun tidak berarti hal ini buruk. Berbicara mengenai saat yang tepat, ada perangkat yang sudah cukup terkenal di kalangan manajer FPL untuk memprediksi ‘aset yang segera membuat gol’, yaitu ‘goals imminent table‘, yang berikutnya disingkat sebagai GIT saja. GIT dibuat oleh salah satu anggota FFScout, yaitu Joe Lepper. Pada artikel ini saya membahas bagaimana cara GIT bekerja, bagaimana performana di 4 pekan pertama, serta membahas kemungkinan pengembangannya.

GOALS IMMINENT TABLE (GIT)

Pada prinsipnya, GIT dibuat untuk mencari pemain yang antara ‘sebentar lagi’ mencetak gol atau memang buruk penyelesaian akhirnya. Sayangnya, GIT merupakan fitur yang hanya bisa diakses oleh para anggota berbayar FFScout. Berbasis data Opta-stats, Joe Lepper menyaring statistik ‘goal threat‘ dari semua aset FPL berdasarkan kriteria tertentu dari periode empat pekan terakhir.

Kondisi batas GIT saat ini adalah minimal melakukan percobaan tembakan sebanyak 10x, dengan total xG (expected goals) 0.2, tetapi belum mencetak gol atau sudah mencetak gol tapi maksimum satu saja. Dengan menggunakan kondisi batas tersebut, pemain yang tersaring adalah pemain yang memiliki penempatan posisi yang baik, sehingga bisa melakukan percobaan sebanyak itu, namun tidak asal melakukan percobaan tembakan (contohnya Townsend / Shelvey yang sering sekali menembak dari jarak yang sangat jauh dari kotak penalti) karena adanya kondisi batas xG. Agar tidak ‘terlambat’, maka aset yang disaring adalah pemain yang belum ‘meledak’ poin FPLnya, diwakili oleh kondisi batas jumlah gol yang maksimal 1 saja. GIT diperbarui setiap pekannya dan bekerja dinamis (periode ’empat pekan terakhir’ selalu berubah dari waktu ke waktu).

Untuk pembahasan dalam artikel ini, karena kita bahkan belum memasuki pekan kelima, saya mengubah sedikit kondisi batas tabel tersebut. Khusus untuk pekan kedua, jumlah minimum percobaan tembakan diubah menjadi 5, bukan 10. Kondisi batas dikembalikan ke nilai awalnya untuk pekan ketiga dan keempat. Periode analisis yang biasa adalah empat pekan terakhir diganti menjadi total pekan sejak pekan pertama data tersedia. Mari kita lihat performa GIT.

PREDIKSI PEKAN KEDUA

Di pekan pertama, ada 5 pemain yang memenuhi kondisi batas GIT: Raul Jimenez, Richarlison, Harvey Barnes, Timo Werner, and Sadio Mane. Mengingatkan saja, masing-masing mereka melakukan minimal 5 percobaan tembakan dengan xG total minimum 0.2, tapi tidak mencetak lebih dari 1 gol di pekan pertama. GIT memprediksi 5 pemain ini untuk meledak di pekan kedua.

Hasilnya, luar biasa. Kelima pemain tersebut total mencetak 7 gol, 1 assist, 1 (fantasy) assist dari penalti yang gagal dikonversikan, serta 7 bonus poin FPL. Poin yang dihasilkan dari 5 pemain ini saja sudah 49 poin, dengan Barnes, Richarlison, dan Sadio Mane menghasilkan poin dua digit. Timo Werner menjadi satu-satunya pemain yang tidak menghasilkan poin FPL.

PREDIKSI PEKAN KETIGA

Jumlah percobaan tembakan minimum dikembalikan menjadi 10 di pekan ketiga, dan hanya ada 2 pemain yang masuk kriteria tersebut, yaitu (lagi-lagi) Richarlison dan Barnes. Mungkin GIT belum pernah dievaluasi fungsinya untuk pekan berturut-turut, namun diprediksi di pekan ketiga, 2 pemain ini segera meledak poinnya.

Hasilnya tidak semegah pekan sebelumnya, namun mengingat banyak kejanggalan di pekan ketiga, tentu 10 poin dari 2 pemain tidak terlalu buruk. Barnes gagal menghasilkan poin FPL, namun Richarlison mencetak 1 gol dan mendapatkan 3 bonus poin.

PREDIKSI PEKAN KEEMPAT

Pekan keempat menjadi salah satu pekan tersulit untuk diprediksi, namun GIT sudah memiliki data dari 3 pekan sebelumnya, lebih panjang dari GIT pekan kedua dan ketiga. Pada prediksi pekan keempat, GIT memiliki 6 nama, yaitu Harry Kane, Richarlison (lagi), Michail Antonio, Harvey Barnes (lagi), Timo Werner (lagi), dan Tomas Soucek. Pemain yang saya tandai dengan ‘(lagi)’ itu antara sebentar lagi segera banget menghasilkan poin atau memang ga bisa nyetak gol aja dah.

Selesai pekan keempat, banyak skor mengejutkan, seperti MUN 1-6 TOT dan AVL 7-2 LIV. Namun, lagi-lagi GIT memberikan hasil cukup oke. Dari 6 pemain yang direkomendasikan GIT, dihasilkan 3 gol, 1 assist, 1 gol yang dianulir oleh VAR karena offside yang tipis sekali, dan 5 bonus poin, rata-rata 5.33 poin per pemain. Itu sudah termasuk Richarlison, yang sialnya cedera di tengah pertandingan dan hanya menghasilkan 1 poin.

PERFORMA GIT KESELURUHAN

Antara pekan kedua dan keempat, GIT sudah merekomendasikan 8 nama pemain berbeda dalam daftarnya, dan 6 di antaranya sejauh ini sudah menghasilkan poin penyerangan FPL minimal 1. Dua pemain yang gagal adalah Timo Werner (mohon dijual saja) dan Tomas Soucek, yang sebelum namanya masuk daftar sebenarnya sudah menghasilkan 1 assist. Keenam pemain yang berhasil telah mengumpulkan 91 poin FPL, 11 gol, dan 2 assists.

PENGEMBANGAN GIT

Bagian ini cukup sulit untuk ditranslasi, sehingga saya sediakan kesimpulannya saja. Intinya saja, ada 2 hal yang bisa diambil dari percobaan pengembangan GIT. Pertama, GIT bisa disesuaikan (dengan mengubah kondisi batas) untuk mencari pemain lain yang lebih ‘under the radar‘. Pada pengembangan GIT yang saya lakukan, saya mendeteksi nama-nama seperti Ollie Watkins, Grealish, dan Trossard, misalnya. Tapi untuk setiap ‘Watkins’, selalu ada ‘Shelvey’, yang artinya terdapat kemungkinan gagal yang lebih besar. GIT ‘2.0’ hanya cocok diterapkan untuk penyerang dan pemain sayap, tidak untuk gelandang tengah, terutama yang bertipe box-to-box. Untuk yang penasaran, bisa langsung menuju ke rubrik utamanya di tautan paragraf 1 ya, terima kasih.

PENUTUP

Pada artikel ini, kita sudah membahas cukup dalam mengenai Goals Imminent Table (GIT). Pada empat pekan pertama musim ini, GIT menjadi salah satu perangkat terbaik yang tersedia untuk memprediksi poin FPL. Namun, GIT masih bisa dikembangkan menjadi lebih baik. GIT versi saya memiliki lebih banyak pemain untuk dipilih, namun dengan resiko kegagalan yang lebih besar, dan lebih cocok diaplikasikan untuk pemain depan saja.

Perlu diingat, sehebat-hebatnya GIT, ada banyak perangkat bermain FPL. Ada ‘eye-test‘, ada ‘statistik’, ada ‘feeling‘, ada ‘informasi online‘, ada ‘komunitas dan media sosial’, dan sebagainya. Apakah ada cara yang ‘benar’? Tidak, yang ada hanyalah cara yang ‘cocok’ dengan setiap orang yang tentunya unik dan berbeda-beda. Mainkanlah FPL dengan cara kita masing-masing, gunakanlah setiap perangkat yang ada. Bagi yang ingin belajar ‘ada apa saja sih perangkat untuk bermain FPL?’, saya dan teman-teman estigabola saya sempat membahas singkat saja hal tersebut di sini. Sila dilihat dan semoga berguna. Selamat mempersiapkan pekan kelima FPL!