Category: Artikel Komunitas

PLOT TWIST FPL, ANTARA SENYUMAN DAN SAMBATAN

Definisi Plot Twist

Menurut Wikipedia, Plot Twist berarti alur cerita yang sengaja dipelintir sehingga memberi efek kejutan. Berasal dari dua kata yaitu Plot dan Twist. Plot berarti alur cerita dan twist berasal dari bahasa Inggris yang berarti melintir atau berputar.

Ketika merencanakan plot twist, seorang penulis dengan sengaja membuat sebuah detail yang menyesatkan, menggiring pembaca mengira arahnya ke A ternyata ke B, membuat pembaca menyangka penjahatnya A ternyata B atau membiarkan pembaca menduga ending-nya A ternyata B.

Plot twist berhasil jika pembaca terkejut, tak menduga, terpedaya, atau tertipu.

Kategori Plot Twist

Plot twist bisa dibagi dalam berbagai kategori. Dilihat dari kemunculannya di akhir cerita, disebut twist ending. Kemunculan di tengah cerita bisa disebut sebagai middle story plot twist.Dilihat dari jeda waktu pengungkapannya, terbagi menjadi long term plot twist dan short. Long term berarti plot twist disimpan selama mungkin sampai sepanjang cerita, sedangkan short term hanya dalam hitungan detik diungkap.

Shutter Island (2011) 

Salah satu film dengan plot twist terbaik adalah Shutter Island yang dibintangi oleh Leonardo Di Caprio. Shutter Island pertama kali diperkenalkan ke dunia sebagai sebuah novel. Novel ini sendiri tercipta karena penulisnya, Dennis Lehane, sempat mengunjungi Long Island di Boston Harbor bersama pamannya ketika dia masih kecil pada Badai Salju tahun 1978.

Tertarik oleh lokasinya yang terpencil, Lehane menjadi penasaran tentang apa yang akan terjadi jika orang-orang terdampar di pulau itu selama badai tanpa menggunakan teknologi modern. Namun, meskipun versi filmnya luar biasa, proses untuk mengubah sebuah buku menjadi film tetap menjadi hal yang sulit.

Bahkan sang penulis skenario, Laeta Kalogridis, sampai membuat outline sebanyak 50 halaman sebelum ia mencoba menulis naskahnya. Lehane memang senang dengan film itu, tetapi ia mengakui kalau menontonnya adalah pengalaman yang aneh.

“Itu terasa seperti kalimatmu, tapi tidak,” katanya. “Itu duniamu, tapi sebenarnya tidak. Itu adalah karakter buatan saya, tetapi tidak serupa. Itu semua hanya interpretatif.”

Cara Membuat Plot Twist

Dari sebuah artikel “Apa Itu Plot Twist dan Mengapa Ungkapan Ini Digunakan?”, dalam link https://tirto.id/fWVw, maka apabila kita perhatikan, ada beberapa jenis plot twist yang bisa kita dapat dalam film atau novel.

  1. Seorang sekutu atau kawan karakter protagonis ternyata orang jahat.
  2. Elemen cerita yang tampaknya penting ternyata tidak penting.
  3. Ketika konflik utama tampaknya telah diselesaikan, ada sebuah pergantian peristiwa yang tidak terduga dan menimbulkan satu konflik tambahan yang harus diatasi.
  4. Sepotong informasi baru yang mengubah cerita sebelumnya.
  5. Kilas balik atau cutaway yang mengungkapkan sebuah informasi. Penonton atau pembaca akan tahu tentang informasi ini, tapi tidak untuk para karakter dalam film atau novel.
  6. Seorang tokoh baru muncul entah dari mana untuk membalikkan narasi yang ada.

Plot Twist dalam FPL

Bagaimana dengan dunia per FPL an ? apakah ada plot twist juga?

Yah benar…..mari kita telaah Gameweek 3 pada season 2020/21.

Final Whistle and VAR

Pertandingan pertama dibuka dengan Brighton VS Manchester United. Diatas kertas, tentu MU lebih diunggulkan untuk meraih kemenangan. Apalagi hal ini didukung fakta bahwa MU membutuhkan point 3 setelah kalah pada pertandingan pertama 3-1 di kandang oleh Crytal Palace. Gol pertama Maupay segera dibalas oleh Rashford. Rashford bukanlah plot twist yang dimaksud dalam game ini. Yup Aktor pertama adalah Maupay, setelah selebrasi menangisnya ternyata benar2 terjadi plot twist di akhir pertandingan karena dialah penyebab kekalahan timnya. Aktor kedua tidak lain dan tidak bukan adalah Bruno Penaldes, sebuah plesetan nama karena seringnya tim MU mendapat “Voucher” penalti pada musim lalu.  Yah dari nilai potensi point 1 karena mendapat kartu kuning, Bruno memberi assist untuk Rashford yang ditutup dengan insiden handball Maupay di menit akhir….ups bahkan kejadian setelah peluit akhir dibunyikan. Dan VAR mengatakan ini penalti untuk MU.

Menurut saya ini termasuk cara ke 3 yaitu di saat kita berpikir hasil akhir yang merupakan konflik utama adalah 2-2, terjadi insiden epic penalti setelah peluit akhir dibunyikan.

Werner is Darth Vader

Pertandingan selanjutnya yang menyajikan plot twist cara pertama adalah Chelsea VS WBA. Digadang gadang menjadi bomber yang subur, ternyata dalam 3 gameweek masih tetap belum mampu mencetak gol sama sekali….

Yes, Werner is the Morata 2.0 bahkan ada cuitan di twitter…..percuma pemain mahal 9,5 yang gunanya hanya modal lari-lari doang….hahaha. Sungguh ganas memang cuitan netizen +62.

Akhirnya cleansheet juga

Pertandingan Southampton VS Burnley juga sedikit plot twist, di saat banyak yang tidak percaya Soton bisa cleansheet merupakan teknik plot twist no2 dimana suatu yang tidak penting bisa menjadi penting. Hal ini mirip dengan celoteh akun mistar gawang “Barang siapa yang kemarin kebobolan terus,maka suatu saat akan mendapatkan CS”

Kutukan tendangan kena tiang dan zonk

Plot twist terus berlanjut ke pertandingan ini, di gadang-gadang akan moncer. Son dan Kane hanya mampu mengantarkan hasil draw untuk Spurs. 2 kali tendangan kena tiang, akhirnya Son harus ditarik keluar babak kedua karena cidera tiba-tiba. Beberapa manager FPL sempat menyangka bahwa ini taktik Mourinho untuk menyimpan kekuatan menghadapi Chelsea, namun sebagian lagi ada yeng berkelakar bahwa ini ada unsur mitos, bahwa ini akan membuat zonk. Dan kebetulannya hal itu terjadi…..Dengan ditariknya Son dan tampil gemilangnya Darlow, akhirnya plot twist terjadi lagi…Dier handsball di menit akhir yang membuat Wilson sukses mengeksekusi Penalti. Ini sepertinya plot twist  cara ke 4 sepotong informasi mengubah cerita.

Triple Penalti untuk Leicester

Plot twist ternyata belum berhenti beraksi, kali ini Manchester City yang menjadi korban. Di atas kertas city jelas diunggulkan, apalagi di menit ke 4 sudah unggul duluan oleh tendangan Mahrez. Tiada hujan tiada petir ternyata City porak poranda akibat penalti oleh Jamie Vardy. Tanpa Laporte memang pertahanan city masih ampas, namun pasukan pep tidak membaca kilas balik yang mengungkapkan sebuah informasi bahwa GW3 adalah musimnya penalti. Hahaha. Plot twist dengan cara ke 5 ini mah.

Bowen senjata terlupakan yang kembali

Dalam sebuah obrolan dan analisis antara 2 anggota Kofpli yang membahas mengenai statistik Bowen yang harusnya akan mendekati gol. Dan itulah yang terjadi Bowen 2 gol dan meraih 15 pts.

“ Untung tidak dibuang”…..sebaliknya lawannya karena kebobolan 4 gol maka ada yang membuat meme dengan triple pemain wolves 0 pts yaitu Jimenez, podence dan Saiss atau ungkapan yang sering kita dengar di pom bensin yaitu “ semua dimulai dari Jimenez ya mas….”

…..hahahaha kreatif ala mang ade ini….joss. Bowen layaknya tokoh yang muncul entah darimana membalikkan keadaan bahwa wolves akan menang menjadi berbeda.

Conclusion

Dengan makin banyaknya plot twist, maka hasil total point akan menjadi anomali dari yang diharapkan. Dan yang begini biasanya akan menjadi ajang sambatan. Jika berada di plot twist yang menguntungkan misalnya mempunya Bruno dan vardy tentu akan bisa tersenyum. Tapi sebaliknya bagi yang tidak tentu ada jalan lain untuk tetap bersyukur dan tersenyum. Yah syaratnya jika anda mau rajin untuk melihat tim lain yang pointnya lebih jelek daripada tim anda…..Happy FPL DAY

Mengelola Akun FPL, Mengelola Bisnis

Game fantasy terbesar di dunia dengan daya tarik Deep Analysis dan Risk Manajemen. Artikel ini, bukan untuk newbie, akan banyak istilah yang tidak saya jelaskan .

Untuk para pemula game Fantasy Premier League , mulai sekarang saya singkat FPL, game ini hanya proses memilih 11 pemain terbaik dengan 4 pemain cadangan untuk orientasi point . Ini tidak salah. Memang ini lah tujuan utama FPL ini. Tapi , setelah bermain lebih dari 5 musim, Anda akan merasakan bahwa FPL bukan hanya sekedar tujuan diatas.

Bagaimana ?

Di musim 2020/2021 ini, musim FPL yang paling penuh ketidakpastian , berantakan, bergejolak, dan ambigu karena tentunya dampak Covid-19 yang menghantam semua sektor, terutama sektor yang bertumpu pada pengumpulan orang banyak seperti bisnis olahraga , termasuk sepakbola.

Ditengah VUCA ini (term yang biasa di gunakan di bisnis juga) para manager FPL juga di hadapkan pada gejolak (harga, transfer, isu2), uncertainty alias ketidakpastian (injury, pertandingan tunda, dll), complexity (susahnya membuat analisa terkait form dan fixture pemain), dan ambigu nya berita dan situasi, membuat para manager harus mempunyai strategy untuk survive (banyak yg delete akun setelah 10 gameweek), dan untuk trive (minimal juara salah satu mini liga paling heboh) . Strategy ini, kerap berbeda, dengan perbedaan pendekatan dan tujuan. Tapi di artikel ini saya akan membahas strategy dasar yaitu, memperlakukan game FPL ini sebagai sebuah bisnis baru dengan pendekatan finance risk manajemen tapi tetap berorientasi akhir pada total point.

Strategy ini akan dibagi berdasarkan 3 phase :

  1. Phase Plan dan Investasi
  2. Phase Establish dan Monitoring
  3. Phase Orientasi dan Profit

1. Phase Plan dan Investasi

Setiap musim Premier League terdiri dari 38 gameweek, setiap gameweek terdiri dari 10 pertandingan melibatkan 20 team, dimana setiap pertandingan minimal melibatkan 22 orang pemain diluar pemain cadangan. Inisial budget yang disediakan adalah 100M poundsterling untuk membeli 11 pemain inti dan 4 pemain cadangan.

Grand Plan kita adalah bagaimana melewati 38 gameweek tersebut dengan tidak memalukan (minimal 5 besar mini liga) atau bahkan jadi juara mini liga, dengan target expansi juara Indonesia. Jelas target tidak bisa rendah. Bagaimana bisa melewati 38 gw dengan sempurna. Saya akan coba share grand plan nya.

Kita akan membagi3 phase sesuai yang sudah saya tuliskan diatas. Phase pertama ini adalah plan dan investasi. Sedangkan pase kedua kita akan mencoba mengelola team dengan kestabilan, sambil tetap waspada memonitoring hal hal diluar team.

Bagaimana kita melakukan investasi ?

Sebagaimana yang sudah beberapa kali saya mention di twitter resmi @DaengFPL adalah 10 gw pertama kita akan investasi untuk Team Value. TV yg awalnya hanya 100M itu kita akan upgrade menjadi minimal 102M di phase kedua. Bagaimana Caranya ?

  1. Beli sebanyak mungkin pemain World Class . Cara memilihnya ada 2, yaitu lihat inisial price mereka (harga awal) di musim ini. Biasanya mereka adalah 5 pemain termahal. FPL memberikan price itu bukan tanpa alasan. Mereka sudah dipastikan dapat membalas point ke para manager dengan setimpal (double digit haul) , konsisten (form yang baik), dan tidak tergantung pada fixtures.
  2. Setelah minimal 5 gw , price mereka akan naik karena kestabilan dan class mereka. Hal ini berdampak langsung pada TV manager. Profit akan meningkat.
  3. Hindari membangun team yang seimbang di 5 gameweek awal. Ini akan menghadang rencana no 1 diatas, team seimbang tidak akan bisa mengakomodir pemain classy yang lebih dari 2. Kita butuh minimal 2 forward dan 3 midfeld, dan menurut saya untuk defender dan GK tidak usah terlalu dipusingkan. Bagian ini akan menggunakan budget yang tersisa.
  4. Hindari transfer minus. Jika memang ada cedera , ganti menggunakan FT saja , jika butuh mengganti 2 pemain, lakukan di 2 gameweek agar tidak minus. Pokoknya minus karena transfer adalah haram.
  5. Hindari menggunakan chip di sepertiga awal musim, terutama wildcard . Chip ini ada 2, di setengah musim awal dan akhir. Tapi sangat saya sarankan di gunakan sebelum Desember Boxing Day. Karena di 2 gw ini akan sering terjadi cedera di setiap team yang memicu rotasi.

Setelah formasi awal ini dibuat, mungkin tidak akan langsung berdampak di awal awal musim. Tapi ingat ini adalah strategy 10 gameweek awal. Outputnya akan kita bahas di phase kedua.

2. Phase Establish dan Monitoring

Phase ini akan menerima output dari phase 1, yaitu, TV yang menjanjikan, minimal plus 2M dari 100M menjadi 102M. Dan bila melakukan inisial transfer pemain class mnimal 5 tadi , maka saya yakinkan bahwa Overall rank Anda juga minimal ada di atas 50% rata rata dunia. Jadi apa saja value dari phase 1 :

  1. TV yang menjanjikan sebagai modal Phase 2
  2. OR teratas 50%, Mini liga di 30% teratas.
  3. Pemain debutan yang menjadi differential , berpotensi naik harga di phase selanjutnya.
  4. Overall Point yang tidak terganggu minus.
  5. Chip yang masih lengkap, minimal hanya wildcard poertama yang terpakai pada Boxing Days.

Dengan 5 value ini, kita bisa dengan mudah melakukan transaksi jual beli pemain yang menguntungkan terutama untuk pemain2 debutan dan differential, karena biasanya class mereka menyebabkan ketidak stabilan form, dan memicu naik turun harga. Ingat hukum bisnis jual beli, beli saat harga turun, dan jual saat harga naik.

Dari pengelolaan transfer ini akan menambahkan team value lagi di phase 2 ini, dengan targat minimal 104M pada phase ke 3.

Bagaimana dengan classy player kita ? Biasanya class player hanya akan terkendala pada form dan kondisi club (hal ini akan terlihast di setengah musim). Para klub besar akan sudah mulai sedikit tersegmentasi, mana klub yang masuk 3 bvesar menjadi calon juara (pastinya form class player di dalamnya akan stabil jangan dijual), akan ada beberapa klub yang terlihat hanya mengejar posisi 4 dan 5 (class oplayer mereka masih bisa terlihat stabil), dan beberapa team akan diluar 5 besar (jika ada class player disini, ini segera jual sebelum harga turun, ganti dengan pemain debutan (dari team yang bisa menyodok keatas 6 besar) atau pemain class dari team dengan posisi 3 besar.

Disini akan terbentuk kestabilan, yang tidak akan memicu minus transfer, Karena di team kita akan sdh tersegmentasi para pemain dengan form dan capaian rata rata poin terbaik. Yang perlu kita lakukan adalah monitoring pemain yang ber “tingkah” berbeda, misalkan, teamnya buruk tapi si pemain selalu menyumbang poin besar dan stabil. Biasanya pemain ini akan menjadi next Classy Player. Masuk pemantauan dan bisa dibeli sebelum harganya naik.

Lakukan monitoring juga pada klasemen Premier League papan bawah, untuk melihat potensi klub klub mana saja yang akan degradasi musim ini. Persaingan degradasi kerap memunculkan pemain potensial dan stabil wajib beli (murah, point stabil), agar team kita “seimbang” di karenakan punya pemain pemain relatif mahal, dan murah sekaligus.

Tetap hindari minus (di phase ini pasti akan mudah ), hindari menggunakan Wilcard kedua, Triple Captain bisa jadi digunakan, dengan syarat sematkan TC pada pemain class saat melawan team dengan pertahanan terburuk, kalau bisa saat Double Gameweek . Bench Boost juga bisa di pertimbangkan jika terdapat Double Gameweek yang menjanjikan untuk team kita.

3. Phase Orientasi dan Profit

Jadi kita akan mengambil output phase 2 untuk phase 3 sebagai berikut :

  1. No Minus, Overall Point aman.
  2. Rank mini liga papan atas, dan (hopefully) OR dunia masuk 1K.
  3. TV 103M atau Lebih
  4. Chip WC, FreeHit , dan BenchBoost (bisa jadi) aman.
  5. Team terdiri dari pemain yang siap untuk phase akhir musim , terdiri dasri classy player dari team penantang juara, dan sisanya dari team kejutan juga pemain stabil dari klub pemenang degradasi.

Fokus kita di phase ini jelas, SPRINT.

FPL is a marathon not sprint. Yes. We’ve done the marathon phase, now we do sprint phase.

Mulai membuat rencana kapan menggunakan Wildcard. Ingat menggunakan wildcard harus berorientasi jangka panjang, bisa jadi tidak berefek langsung di gameweek tersebut.

Pastikan target Anda. Jika target mini liga maka pilih pemain yang setengahnya berbeda dengan team lawan yang ada diatas klasemen kita. Karena hanya dengan cara itu kita bisa berbeda dan melewati. Saya sendiri pernah kalah setelah memimpin lebih 100 point karena tidak menggunakan strategi ini.

Jika saat ini kita sudah memimpin jauh, maka set orientasi kita ke Overall Rank. Tujuannya jelas, no minus more point. Atur pemilihan Capt ke classy player terbaik form dan fixturenya. Tujuan terdekat no 1 Indonesia!!!

Kita sudah punya semua bekal. Mau beli pemnain mahal, TV siap. Mau TC class player siap, mau differential juga siap. Overall Point juga menjanjikan. Saatnya melibatkan intuisi dan guts. Its now or never, remove the break, go faster and furious !!!

Putuskan dengan berbeda, karena jika sama makan Overall Rank tidak akan melesat.

Selamat berbisnis kawan semoga lancar .

Makassar, 26 September 2020, Salam DaengFPL.

Menjadi Benar dan Tidak Benar dalam Perspektif FPL

Sebelum lebih jauh menulis dan mendalami tulisan ini, ada baiknya kita pahami dulu apa itu perspektif. Perspektif menurut Joel M. Charon, seorang Profesor Emeritus Sosiologi menerangkan bahwa perspektif adalah berupa kerangka konseptual, perangkat asumsi, perangkat nilai dan perangkat gagasan yang mempengaruhi persepsi seseorang sehingga pada akhirnya akan mempengaruhi tindakan seseorang dalam situasi tertentu. Sementara itu Sosiolog, Nanang Martono menjelaskan bahwa perspektif adalah cara pandang terhadap suatu masalah yang terjadi, atau sudut pandang tertentu yang digunakan dalam melihat suatu fenomena (Martono, 2010). Sedangkan Menurut KBBI perspektif adalah sudut pandang; pandangan.

Dari ketiga pengertian di atas dapat lah kita pahami dan sepakati secara garis besar bahwa perspektif adalah pandangan atau cara melihat suatu fenomena dan itu mempengaruhi dalam situasi tertentu. Hal ini yang mendasari saya dan dengan spontanitas untuk mengetik tulisan ini, mungkin lebih tepatnya menuangkan isi kepala di dalam sini.

Awal pertama bermain Fantasy Premier League (FPL) diajak oleh seorang teman dan sedikit sekali informasi yang didapatkan mengenai apa itu FPL, sangat sulit mencari informasi terbaru jangankan xG / xA, jumlah key pass atau chances created, yang umum saja seperti pemain cedera ataupun perkiraan lineup juga sulit mencarinya entah saya yang tidak tau bahwa data itu memang sudah tersedia sejak lama ataupun saya baru mendapatkan data tersebut. 

Singkat cerita saya menemukan informasi yang saya butuhkan di Twitter, saya yang baru berkecimpung di dalam dunia media sosial Fantasy Premier League (FPL) beberapa tahun ke belakang dan memang lebih aktif mengeluarkan cuitan mengenai FPL di dunia Twitter. Semakin hari semakin saya temukan bahwa FPL ini lebih dari sekedar permainan adu keberuntungan. 

Mengapa Perspektif FPL ? ya karena selama dalam perjalanan saya mengarungi dunia FPL tepatnya di awal-awal dan sedang semangat-semangatnya mulai mencari informasi mengenai FPL kemudian bencana itu datang, kalimat legendaris “Baru main FPL, ya ?” atau “Berapa OR (Overall Rank) mu sekarang” ? beruntung lah bagi kalian jika belum pernah bertemu dengan orang-orang yang melontarkan kalimat tersebut, kalimat yang penuh keegoan dan keangkuhan menurut tafsir saya, benar-benar menjatuhkan semangat saya bahkan sedikit menyisakan trauma, hal ini pernah saya cuitkan juga :

Alhamdulillah banyak support didapatkan namun damage yang saya terima akibat perkataan tersebut bukan main, sampai sekarang masih ragu dan jarang untuk berpendapat mengenai pemain A, pemain B,  walaupun kebebasan berpendapat dijamin negara tapi perundungan ada dimana-mana.

Bertahun-tahun lamanya, ternyata beberapa hari lalu juara 1 Indonesia musim kemarin, Bayu Ajie Oktavianto pun mendapat cercaan karena lineup nya diikuti oleh salah satu Manajer FPL dan Manajer tersebut tidak terima dengan hasil yang didapatnya, seperti cuitan berikut ini,

Lah yang beprestasi aja tetap dinyinyirin apalagi kita-kita remahan rengginang ini ya pasti jelas udah salah bagi mereka.. 

Untuk memutus mata rantai seperti itu ya baiknya tidak perlu tanggapi terlalu jauh, lakukan apa yang kamu bisa, pertandingan yang kamu tonton silahkan analisa keluarkan uneg-uneg dan cuitanmu di Media Sosial, silahkan berpendapat bahkan keluar kan saja rekomendasi pemainmu, karena sejatinya tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah dalam bermain FPL, seperti pernah dituliskan oleh @sukaFPL dalam suatu Artikel di KoFPLI bahwa “semua punya jalan ninjanya masing-masing”.

Hasil dari Analisa dan pendapatmu itu akan menjadi terbukti atau tidak terbukti bukan menjadi benar dan tidak benar, bahkan jika pemain yang kamu prediksi poinnya sesuai ekspektasi itu karena hasil analisamu bagus, dan apabila meleset dari harapan mungkin kamu belum beruntung tapi setidaknya sudah ada keberanian untuk menganalisa dan memunculkan sesuatu dalam pikiran. Selama ini saya secara pribadi masih jarang melihat bahkan cenderung adanya ketakutan dari beberapa pihak untuk mengeluarkan pendapat mengenai sepakbola khususnya FPL karena ya itu tadi, takutnya terjadi perundungan apabila salah mengeluarkan pendapat. 

Jika kamu sangat menggeluti dunia FPL ini maka silahkan eksplor sejauh mungkin kemampuanmu cari data sebanyaknya, lakukan apa yang menurutmu akan membantu dalam menyusun formasi atau menentukan pergerakan transfer memilih pemain, jangan pedulikan omongan-omongan dan kesombongan mereka, kelak setelah eksplor lebih dalam mengenai FPL akan kamu temukan tipe dirimu akan bermain seperti apa, serius dan ngotot mengejar hadiah, sekedar have fun atau ketika ingat saja baru susun formasi, tidak jadi masalah karena juga merupakan bagian dari seni bermain FPL. Seindah dan senikmat itu bermain FPL.

Jangan terpengaruh dengan lingkungan yang buruk bahkan menggangu realita hidup jika Overall Rank mu jeblok atau panah merah terus-menerus. Sesungguhnya kamu hanya mengalahkan dirimu sendiri bukan orang lain, mengalahkan egomu, mengalahkan amarah dan kesal mu serta seberapa besar jiwamu menerima hasil yang tidak sesuai dengan kenyataan.

Sekali lagi, Tidak ada yang benar dan tidak benar dalam bermain FPL, hanya akan menjadi terbukti dan tidak terbukti saja, semua ini tentang Perspektif.

Penulis biasa berkicau di @AYTFanFoot

Artikel lainnya pernah ditulis di :Panditfootball.com (1)Panditfootball.com (2)

Mengeluh, Fanatisme dan Kerelaan Menjadi “Pengkhianat”

Suatu ketika seorang pendukung Manchester United begitu membenci pemain Liverpool, saking kentalnya rivalitas kedua klub. Sehingga sebaik apapun pemain Liverpool, tak ada baiknya bagi pendukung United. Dan sebaliknya. Pun demikian dengan rivalitas Tottenham vs Arsenal, MU vs Arsenal, dan sebagainya. Dalam realita sekarang ini, semua masih terjadi, semua tak lepas dari bumbu fanatisme.

Itu hanya gambaran, sependek informasi yang saya tahu. Nyatanya, saling ejek antar kedua pendukung pun masih sering terjadi, minimal dari cuitan di Twitter atau status di Facebook. Ya, fanatisme terkadang membuat orang menjadi begitu bersemangat dalam mendukung tim kesayangan mereka. 

Pekan perdana EPL sudah usai, dengan Liverpool yang dengan susah payah menaklukkan Leeds United, tim promosi yang digadang menjadi pembeda, tak lepas dari keberadaan Bielsa sebagai peracik strategi. Kegirangan manajer FPL pun tak terbayangkan, setelah lama menanti akhirnya mereka bisa menyusun tim dan berharap meraih poin sebanyak-banyaknya. Tentu yang diharapkan adalah juara, minimal di mini league yang mereka ikuti. 

Bumbu yang paling terasa di awal GW1 ini adalah dengan dicadangkannya Mitrovic saat lawan Arsenal, dan tidak dipasangnya Mo Salah sebagai kapten oleh sebagian besar manajer FPL. Saat line up Fulham muncul, sumpah serapah dan keluhan mulai terasa, maklum Mitrovic jadi cadangan. Saat pertandingan mau mulai, hampir seperempat dari jumlah manajer memiliki pemain ini (24,5%), walau saya percaya kalau kepemilikannya akan dengan cepat mengalami penurunan, yang tidak sabar dan kecewa pasti akan menjual dan mengganti dengan pemain lainnya. 

Kekalahan Tottenham atas Everton juga tak kalah menarik, menyisakan keluhan dan cacian. Maklum saja, banyak yang menganggap bahwa Spurs akan dengan mudah mengalahkan Everton. Kane, Son, Ali dan beberapa pemain Spurs lain menjadi pilihan, mengingat jadwal Spurs di awal kompetisi sedikit mudah menurut ukuran FDR. 

Sebenarnya masih banyak cerita menarik lain dari berakhirnya pekan pertama EPL, tapi saya kira tidak perlu saya tuliskan disini. Terlalu banyak, biar tidak kepanjangan tulisannya. Kalau penasaran bisa cari referensi lainnya. Maaf, ya?.

Bagi manajer FPL yang merupakan pendukung fanatik Manchester United atau Everton, sebenci apapun mereka terhadap Liverpool, saya kira akan sangat menyesal ketika tidak memasang Mo Salah atau tidak memberikan ban kapten kepadanya. Torehan tiga gol membuat Salah mengantongi 20 poin, kalau dijadikan kapten maka poinnya menjadi 40, untuk ukuran FPL tentu ini adalah poin yang luar biasa.

Hal yang disadari bersama bahwa FPL hanya bicara jumlah poin, tak peduli dari pemain mana asal poin tersebut, fanatisme tak berlaku, rivalitas atau besar kecil klub asal pemain tak berbicara banyak. Dalam permainan ini menjadi “pengkhianat” saya kira sah-sah saja, sebatas kewajaran tentu saja. Tapi, bukan berarti mempertahankan idealisme juga keliru, seperti yang saya singgung sebelumnya, yang terpenting adalah jumlah poin. 

Kalau ingin jumlah poin yang banyak, pendukung United harus “rela” memilih pemain Arsenal, Liverpool atau City. Pun demikian sebaliknya. Dalam FPL fanatisme terhadap sebuah klub menjadi abu-abu, dan dengan kesadaran maupun tidak harus rela jadi “pengkhianat”. Tentu saja hal ini tidak berlaku untuk semua manajer FPL, masih banyak yang bersikukuh untuk mempertahankan idelisme dan fanatisme terhadap klub yang mereka dukung.

Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, jalan ninja masing-masing manajer tentu berbeda, cara menikmati permainan ini juga berlainan. Out put dari menjadi manajer FPL adalah kepuasan, puas mendapat poin banyak, puas menjadi juara, puas mem-bully teman yang dapat poin jelek, dan sebagainya. 

Nah, apa yang saya sampaikan di atas adalah pandangan pribadi, dari sudut sempit pemahaman saya. Hal yang harus digaris bawahi adalah manajer FPL adalah mereka yang punya akun FPL, tidak harus suka bola atau tidak. Jangan sampai ada anggapan kalau tidak suka bola tidak boleh main FPL, atau sebaliknya, yang suka bola pasti main FPL. Seperti pertanyaan Koch Justin dalam cuitannya: “Emang di kira semua orang yang suka bola main FPL????”. Kalau opini saya ini sampai dibaca beliau, bisa kena semprot saya, bisa dibilang sebagai manajer FPL kardus. Jangan disampaikan, ya?.

Lupakan dulu Koch Justin. Sebelum lupa, selain poin dalam jumlah angka, poin lain yang tidak kalah penting adalah rasa syukur. Tidak bermaksud menggurui, sungguh, ini masih GW1, masih tersisa 37 GW berikutnya, bagi yang dapat poin dibawah rata-rata, masih ada kesempatan untuk mengejar ketertinggalan. Chip masih utuh, wildcard masih bisa digosok untuk memaksimalkan perolehan poin gameweek selanjutnya.

Banyak yang bilang kalau FPL itu marathon, bukan sprint. Meski banyak yang membantahnya tapi tak sedikit yang mengamininya. Posisi akhir klasemen tidak ditentukan di GW1 saja, tapi rekap poin dari GW1-GW38. Meski berat, sementara merubah warna fanatisme dan rela menjadi “pengkhianat” untuk tim kesayangan setidaknya bisa membuat leluasa dalam memilih pemain. Sudah banyak yang seperti itu. Kecuali kalau setiap game week bisa menerima berapapun hasil poin yang diperoleh, seperti Cak Sambat yang selalu setia dengan Harry Kane, berapapun poinnya. Apapun pilihan dan hasil yang diperoleh, nikmati saja, perjalanan baru dimulai, simpan keluh kesah, karena waktu untuk sambat masih panjang. Begitu.

Sukadi (@SukaFPL)

Menikmati FPL Dengan “Jalan Ninja” Masing-Masing

Tidak terasa musim baru segera bergulir, setelah liku kompetisi musim 2019/20 akibat dampak Covid-19 begitu menguras emosi. Ya, English Premier League (EPL) atau yang fasih disebut sebagai Liga Inggris menyisakan cerita haru ketika Liverpool dan para pendukungnya merayakan gelar juara yang dinantikan berpuluh tahun lamanya. Tak terbayang, ketika gelar didepan mata kompetisi sempat ditunda, dibumbui isu pemberhentian kompetisi. Betapa tersiksa perasaan mereka yang merindu gelar juara.

Continue reading “Menikmati FPL Dengan “Jalan Ninja” Masing-Masing”